Proses Pembuatan Rumit, Eksistensi Pengrajin Gamelan Diuji

Share this :

Nganjuk, koranmemo.comDunia hiburan kian beragam di era modern seperti sekarang ini. Dalam hal apapun, peralatan canggih mulai menyebar di pasaran dan menyentuh berbagai segmen. Hal itu membawa dampak bagi pengrajin gamelan yang notebene merupakan alat musik sederhana dan harus bertahan dengan segala keterbatasan.

Salah satu pengrajin gamelan yang berusaha bertahan dengan profesinya yakni, Didik Adiono warga Desa Jatirejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk. Dengan berbagai macam cara dan upaya, Didik beserta puluhan pekerja mencoba untuk bisa terus eksis di tengah gempuran produk modern.Rumitnya tahapan pembuatan gamelan, membuat bisnis ini tak banyak peminat. Untuk memproduksi satu unit gamelan saja dibutuhkan kerja keras yang luar biasa. Mulai membakar bahan baku kuningan, memande atau memukulnya hingga menjadi lembaran, atau mengelas dan menghaluskannya hingga menghasilkan nada yang berbeda-beda.

Tapi bagi Didik Adiono, pekerjaan ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Sehingga, kesulitan yang ada tidak menjadi masalah yang begitu berarti untuknya. “Memang proses pembuatan begitu sulit dan membutuhkan kerja keras. Tapi karena sudah menjadi kebiasaan akhirnya semua bisa dilalui begitu saja,” ujarnya.

Setiap satu jenis alat musik dihasilkan oleh pekerjanya, Didik langsung melaras atau menyetem alat musik ini untuk menghasilkan nada-nada yang berbeda sesuai keinginan. Mulai gong, kempul, kenong, bonang, gender, slentem, saron dan masih banyak lagi.

Harga tiap set gamelan bervariasi, tergantung bahan yang dipakai untuk membuatnya. Seperti bahan besi misalnya, satu set gamelan lengkap dipatok harga Rp 60 juta, sementara gamelan yang berbahan kuningan satu set lengkap harganya mencapai Rp 200 juta.

Gencarnya usaha pemerintah dalam melestarikan budaya dan kesenian tradisional membuat peluang usaha dan pemasaran kerajinan gamelan ini kian terbuka. Maraknya pameran di pusat maupun di berbagai daerah hingga program-program seni tradisional masuk sekolah, membuat permintaan kerajinan gamelan terus antre dan berdatangan.

“Namun tetap tidak boleh lengah. Karena persaingan di era modern ini semakin ketat dan keras,” pungkasnya.

Reporter: Andik Sukaca
Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date