Prihatin Saat Tukik Disakiti

Sujianto, Pelestari Tukik Pantai Serang

Serang, mungkin identik dengan salah satu daerah di Provinsi Banten. Padahal di Blitar, ada sebuah desa yang juga bernama Serang. Desa serang ini memiliki banyak sekali potensi wisata alam, salah satu wisata alam yang paling terkenal dari desa ini adalah Pantai Serang. Sebuah pantai yang bisa dibilang cocok untuk piknik keluarga. Bahkan sejak 2014 lalu, Pantai Serang juga menjadi wisata konservasi tukik atau penyu yang mulai digalakkan oleh kelompok pelestari penyu.

            Kawasan wisata Pantai Serang merupakan pantai dengan banyak pepohonan yang rindang. Itulah yang membuat pantai ini cocok untuk piknik keluarga. Karena dengan banyaknya pohon cemara udang yang rimbun membuat pengunjung hanya perlu membawa tikar dan menggelarnya untuk bersantai. Apalagi dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus dari laut dan suara debur ombak yang memberikan kesan tersendiri. Sangat berbeda dengan pantai lainnya di wilayah Blitar selatan yang gersang dan tidak ada pepohonan di pinggir pantai.

Di pantai ini, juga ada kelompok yang melestarikan binatang langka jenis penyu. Kelompok pelestari penyu yang diketui oleh Sujianto (45) ini selama hampir 2 tahun telah berhasil menetaskan berbagai jenis tukik. “Yang jelas setiap tahun itu kami selalu menemukan telur dan selama ini sudah berhasil menetaskan telur penyu sekitar 600 telur lebih diantaranya penyu sirip, penyu blimbing, penyu hijau, penyu sisik,” ungkap Sujianto, ketua kelompok pelestari penyu Desa Serang Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar,Senin (17/10).

Proses pelestarian penyu ini tidak gampang terlebih proses pencarian telurnya. Untuk mendapatkan telur tukik, selain mencari, mereka juga terkadang harus membeli seharga Rp 2.000 kepada para pengunjung yang secara kebetulan menemukan telur tersebut. Setelah berkumpul, proses selanjutnya telur-telur itu ditanam di dalam tanah selama kurang lebih 2 bulan. Dalam proses ini, mereka harus jeli menentukan suhu saat penetasan.

Menurut Sujianto, mulai dari pengumpulan telur sampai menetas dan sampai dikembalikan ke laut memerlukan kesabaran, ketelatenan, dan harus memiliki rasa mencintai hewan tersebut. “Pada waktu penyu-penyu yang baru menetas dipegang oleh orang lain yang pernah luka kena sikat pembersih dan penyu tersebut mengalami sakit, saya marah kepada orang yang menyakiti tersebut,” ujarnya.

Sesuai dengan pengalamannya, sangat sulit penyu yang sudah dilepas di laut ini bisa bertahan. Karena menurut penelitian dari 1000 ekor tukik yang dilepas ke laut biasanya hanya 5 ekor saja yang berhasil selamat dari predator laut.

Menurutnya, ada keasyikan tersendiri dalam merawat tukik. Misalnya ketika memberi makan pelet pagi, siang, dan sore. Hewan-hewan tersebut sangat penurut. Begitu juga dalam masa reproduksi, dia mengetahui keunikan dari hewan tersebut, yakni masa bercumbu menunggu umur 30 tahun sehingga tidak sama seperti hewan-hewan lain.(rif)

 

Follow Untuk Berita Up to Date