Prihatin Dampak Kekeringan, Rumah Zakat Salurkan Air Bersih

Share this :

Trenggalek, koranmemo.com – Rumah Zakat menyalurkan air bersih pada korban kekeringan di wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.  Tim Rumah Zakat melakukan tindakan cepat setelah mendengar kabar adanya desa yang berdampak kekeringan, yang berakibat pada kelangkaan air bersih di daerah tersebut.

Dyan Arifin , relawan Rumah Zakat yang terdekat dengan daerah kekeringan tersebut, langsung melakukan penanganan dengan menyalurkan air bersih ke daerah terdampak.

Relawan Rumah Zakat itu menyasar Desa Suruh , Kecamatan Suruh yang sekitar 70 Kepala Keluarga (KK) di wilayah itu yang  sangat terdampak. Seperti diberitakan , daerah ini setiap tahunnya menjadi langganan kekeringan.

“Sudah dua dari tiga dusun di desa tersebut kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya, Kamis (7/9).

Terlebih lagi Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang menjadi sumber air bersih tidak berfungsi dan keruh.

“Air dari Pamsimas sudah tiga hari mati, dan kalau keluar warna airnya keruh kehitaman,” ujarnya pasti.

Sementara Sumaji (34) warga setempat menyampaikan bantuan dari BPBD Kabupaten Trenggalek sebetulnya sudah sampai di daerahnya. Namun karena dampak dari kekeringan itu meluas hingga mencapai 70 KK , maka kebutuhan air yang diperlukan warga untuk mencukupi kesehariannya menjadi berkurang.

“Mungkin saja ini akan makin bertambah jumlah warga yang butuh air itu,” terangnya.

Dari informasi yang dihimpun, saat air bersih Rumah Zakat datang, warga berdatangan dan mengantre untuk diisi air secara bergiliran. Selain itu mobil tangki berkeliling menghampiri pelataran rumah warga yang telah menyiapkan penampung air.

“Harapannya, air bersih seperti ini sering datang, mengingat kebutuhan akan air bersih terus bertambah seiring dengan lamanya musim kemarau,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Rumah Zakat yang eksis dalam kegiatan sosial ini juga mendistribusikan air bersih ke Desa Mlinjon Kecamatan Karangan. Dimana di desa itu sekitar 35 KK juga mengalami krisis air yang terjadi sejak akhir Agustus lalu. “Disini ada air dari sungai bisanya hanya untuk pakan ternak,” pungkas Dyan.

Reporter : Puthut Purbantara

Editor     : Hamzah Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.