Polresta Kediri Pamer Tangkapan, Paling Banyak Pengedar Pil Dobel L

Kediri, koranmemo.com -Polresta Kediri dalam kurun waktu dua minggu terakhir menangkap 46 pelaku dari 39 kasus tindak pidana baik pencurian, kekerasan, penadah, sampai pengedar narkoba. Dari 39 kasus, paling banyak adalah kasus penggunaan maupun pengedar obat keras jenis pil dobel L yang mencapai 17 kasus.

Hasil ungkap tersebut disampaikan Kapolresta Kediri, AKBP Miko Indrayana dalam personel rilis di ruang Rupatama, Mapolresta Kediri, Rabu (11/3) siang. “Ini merupakan atensi dari bapak Kapolri, terkait gangguan kamtibmas selama dua minggu terakhir. Untuk perkara narkoba, kami mengamankan 23 tersangka dan barang bukti ada 9.000 butir lebih pil dobel L dan 8,78 gram sabu,” jelasnya.Selain itu, lanjutnya, menjadi perhatian Polresta Kediri saat ini yaitu munculnya modus baru mengenai peredaran obat keras. Meskipun barang yang diedarkan dan dijual bukan termasuk jenis obat keras, namun modus yang dilakukan baru.

Para pelajar SMP di wilayah hukum Polresta Kediri, kata AKBP Miko, mengemas kembali pil ke dalam kemasan plastik dan diakui sebagai obat keras. Hasil kemasan tersebut ditawarkan ke teman-teman lainnya, dan para pelajar ini mengkonsumsi pil tersebut. “Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata pil yang dijual adalah antimo,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tesebut terulang, Polresta Kediri akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri. Pasalnya, para pelajar sangat riskan menjadi sasaran peredaran obat keras, mengingat usia masih labil dan cenderung mencoba sesuatu yang baru.Menurut AKBP Miko, selain perkara narkoba, saat ini yang menjadi fokus utama Polresta adalah tindak pidana pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), judi, minuman keras (miras), dan penganiayaan. Setidaknya dalam kurun waktu dua minggu terakhir, personel Polresta Kediri menangkap 23 pelaku dari 22 perkara.

AKBP Miko mengatakan, aksi penipuan beberapa waktu terakhir juga mulai terjadi di wilayah hukum Polresta Kediri. Untuk di daerah Mojo, ada penipuan berkedok arisan dan kerugian mencapai Rp 500 juta. “Satu sampai dua bulan lancar, tapi bulan berikutnya mulai ada kendala dan ternyata arisan bodong,” tuturnya.

Tak hanya itu, sambungnya, ada oknum yang memanfaatkan kekhawatiran masyarakat terhadap virus Corona untuk meraup keuntungan. “Kami menerima informasi mengeni penipuan masker. Modus operasionalnya, pelaku mengaku mempunyai masker melalui media sosial (medsos) baik Facebook maupun Whatsapp,” katanya.

Dalam prosesnya, pelaku meminta kepada calon konsumen supaya mengirimkan uang untuk pemesanan. “Namun, si pelaku ini kembali meminta uang dengan alasan ada kendala dalam pengirimannya. Rata-rata kerugian yang dialami korban ini kurang lebih Rp 9 sampai 13 juta tapi  sementara ini belum ada laporan resmi. Meskipun demikian, kami sudah membentuk tim khusus untuk mengungkap praktik penipuan ini, kurang lebih ada 4 orang yang menjadi korban,” jelasnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor :  Achmad Saichu