PNBP Naik Hingga 100 Persen

Share this :

Tulungagung, koranmemo.com – Para pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat, harus merogoh uang lebih dalam lagi pada saat mengurus pengesahan surat tanda nomor kendaraan (STNK) setiap tahunnya, di kantor Satuan Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Kabupaten Tulungagung.

Pasalnya, mulai 6 Januari akan diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) nomor 60 tahun 2016 tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berlaku dilingkup Kepolisian Negara Republik Indonesia, naik hingga 100 persen.

“Peraturan pemerintah ini menggantikan peraturan pemerintah nomor 50 tahun 2010, dan diberlalukannya mulai 6 Januri 2017 mendatang,” ungkap Kapolres Tulungagung AKBP Yong Ferrydjon melalui Kasat lantas AKP Donny Dwija Romansa, Rabu (4/1).

Donny menuturkan, adapun perubahan atau penambahan jenis PNBP salah satu contohnya yakni penerbitan STNK yang semula tarif berdasar PP No 50 tahun 2010 untuk roda dua atau roda tiga sebesar Rp 50 ribu, namun dengan adanya PP No 60 tahun 2016, tarif naik menjadi Rp 100 ribu.

Sedangkan untuk roda empat yang sebelumnya Rp 75 ribu kini naik menjadi Rp 200 ribu. “Itu salah satu contoh untuk tarif penerbitan STNK yang baru maupun perpanjangan. Rata rata naik hingga 100 persen,” jelasnya.

Kenaikan cukup tinggi untuk penerbitan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) untuk kendaraan roda dua dan tiga pada PP terdahulu besaran tarif Rp 80 ribu kini naik menjadi Rp 225 ribu, sedangkan untuk roda empat yang sebelumnya Rp 100 ribu kini naik menjadi Rp 375 ribu. “Itu untuk penerbitan BPKB baru dan ganti nama pemilik,” katanya.

Donny menambahkan, pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat diharapkan dalam kepengurusan pajak, atau mutasi kendaraan agar dilakukannya sendiri. Janganlah melalui jasa calo, dikhawatirkan para calo akan menyalahgunakan atau mengatasnamakan sendiri.

Padahal biaya resmi sudah tertera pada setiap loket pelayanan.“Kami akan melayani kepengurusan pajak secara maksimal. PP ini berlaku seluruh Indonesia, tidak hanya di Tulungagung saja,” pungkasnya. (den/Jb)