PG Pesantren Harus Tanggung Jawab

Share this :

Gapura-PG.Pesantren-Baru*Terkait Limbah PG yang Berlangsung Sepanjang Tahun

Kediri, Memo-PG Pesantren yang membuang limbah produksi sembarangan harus bertanggung jawab terhadap kondisi masyarakat yang terkena dampak limbah tersebut. Tidak cukup hanya memberi kompensasi berupa Sembako (sembilan bahan pokok).

Hal tersebut ditegaskan Humas Pemkot Kediri Jawadi yang dikonfirmasi Memo kemarin. “Limbah yang dibuang di sungai bisa mengganggu kenyamanan warga itu seharusnya seperti dinas terkait dan Kepala Kelurahan setempat harus segera tanggap menangani masalah tersebut. Serta pihak pabrik harus bertanggungjawab atas hal itu,” ungkap Jawadi.

Seperti diketahui meski sudah bertahun-tahun warga sekitar pabrik terkena dampak limbah PG Pesantren, namun sampai saat ini warga belum mendapatkan solusi penyelesaian dampak limbah tersebut dari beberapa pihak terkait.

Lebih jauh Kabag Humas menambahkan, pihak pabrik yang memang limbahnya sudah mencemari lingkungan Kota Kediri harus segera memberikan solusi dari pencemaran tersebut dan tidak hanya kompensasi yang hanya diberikan warga. Pabrik harus segera mengatasi limbah tersebut agar tidak dibiarkan secara berlarut-larut hingga bisa mengakibatkan kesehatan warga terganggu.

Namun, dilain tempat ternyata satuan kerja ditingkat kelurahan justru hanya menganggap remeh limbah yang sudah meresahkan warga tersebut.

Seperti yang diungkapkan Tjahyo, Kepala Kelurahan Ketami Kota Kediri. Ia terkesan menganggap enteng masalah yang menimpa warganya itu.

Meski warga Dusun Dander Kelurahan Ketami sudah bertahun-tahun terkena dampak limbah cair PG Pesantren tersebut, lurah Ketami ini malah menganggap sebagaihal biasa. “Saya kan baru 6 bulan menjabat di sini,” ungkap Tjahyo saat dikonfirmasi di kantornya.

Ia menambahkan, terkait limbah yang mengganggu di wargnya tersebut menurutnya hingga saat ini belum mendapat laporan resmi dari warga. Namun demikian, apabila banyak warga yang mengeluh pihaknya siap menemukan warganya dengan pihak pabrik.

“Dari dulu memang bau menyengat bisa tercium hingga 5 kali dalam sehari, itu terjadi sudah dari dulu,” imbuhnya.

Di lain tempat, Parti (50) warga Dusun Dander mengatakan beberapa warga memang tak selalu memberi tahu setiap keluhan di kantor kelurahan bahkan dinas terkait untuk menangani masalah tersebut.

Namun harapan warga sekitar pabrik agar Kepala Kelurahan maupun dinas terkait seharusnya bisa tanggap dengan apa yang dialami warganya tanpa harus menunggu laporan.

“Harusnya Kepala Kelurahan maupun dinas terkait bisa membantu warganya untuk memberikan solusi dan menyelesaikan masalah limbah yang sudah sangat menyiksa warga ini. Tidak harus menunggu dilapori. Sebenarnya warga sudah kesal terhadap pabrik, tapi rata-rata kami ini warga kecil, setiap demo ya tidak ada gunanya bagi mereka kalau tidak ada bantuan dari kepala kelurahan dan dinas terkait untuk mengangani masalah ini,” ungkapnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, limbah PG Pesantren sangat mengganggu warga di Dusun Dander Kelurahan Ketami dan Dusun Kresek Kelurahan Tempurejo yang berada sekitar pabrik. Beberapa warga di kelurahan setempat bahkan mengalami sesak nafas, pusing dan muntah-muntah akibat dampak dari bau limbah yang sangat menyengat tersebut.

Sementara itu, Kepala Bagian Penanganan Dinas Kesehatan Kota Kediri Anita, efek dari beberapa bau tak sedap yang disebabkan limbah dapat juga menimbulkan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

“Kalaupun warga yang bertempat tinggal di sekitar pabrik mencium bau yang diakibatkan dari limbah secara berlebihan itu juga bisa mengakibatkan terkena ISPA. Dan apabila air yang tercemari limbah digunakan sebagai kebutuhan warga juga dapat mengakibatkan infeksi kulit bahkan keracunan,” jelasnya.(can)