Perkenalkan Topeng Malangan Melalui Ekonomi Kreatif Topeng Coklat

Share this :

Malang, koranmemo.com – Dalam memperkenalkan kebudayaan lokal Topeng Malangan, seniman dari Paguyuban Titik Tenger punya cara yang unik. Salah satunya dengan pameran Topeng Cokelat yang diselenggarakan di Pasar Bareng, Kota Malang, Selasa (15/9).

Djoko Rendy, Ketua Paguyuban Titik Tenger menuturkan, kegiatan  yang diselenggarakan mulai 15 September sampai 16 September 2020 tersebut berfokus pada 3 kegiatan. Di antaranya, pembuatan Topeng Malangan, Topeng Coklat dan membatik.

“Kita memperkenalkan budaya melalui Topeng Cokelat, karena pada dasarnya Ibu-ibu memang suka memasak dan adik-adik kita suka cokelat. Jadi untuk mengenalkan kesenian tradisi, kita coba lewat makanan,” ujarnya.

Menurut Djoko, dalam upaya memperkenalkan Topeng Malangan, Paguyuban Titik Tenger akan terus konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat luas. Dalam mengenal seni tradisi Topeng Malangan banyak ditemui masyarakat Kota Malang yang tak mengetahui Topeng Malangan tersebut.

“Dalam proses pembuatannya, kami juga memperkenalkan cerita karakter topeng tersebut. Jadi kita ceritakan dari awal, kita edukasi tentang karakter topengnya. Kita jelaskan juga jenis jenis topeng malangan, sebelum proses pembuatan Topeng Cokelat,” tuturnya.

Baca Juga: Angka Kedisiplinan Kota Malang 75 Persen, 47 Warga Terjaring Operasi Yustisi

Djoko menambahkan edukasi yang dilakukan Paguyuban Titik Tenger lebih berfokus pada pengenalan ciri khas Topeng Malangan. Terdapat 3 ciri khas pada Topeng Malangan, yaitu terdapat bunga mawar, bunga matahari dan dedaunan di ukirannya.

“Harapannya masyarakat lebih mengenal, lebih mencintai dan mempelajari seni tradisi yang ada di malang ini. Jadi menghargai karya karya adiluhung para pendahulu kita,” tambahnya.

Baca Juga: Kantongi Uang Rp 2.000 Saat Ditilang, Pria Ini Berhutang Untuk Bayar Denda

Sementara itu, Evi Widiya Sukmawati, Kepala Sekolah Omah Bocah Annaafi’ Malang, menuturkan Omah Bocah Annaafi’ sendiri memang memiliki visi tentang kebudayaan. Sehingga 14 pengajar di kirim untuk mengikuti kegiatan edukasi pengenalan tradisi lokal.

“Jadi guru guru ini saya ajak kesini selain edukasi sekaligus untuk refreshing juga. Sambil mengenal kebudayaan supaya menambah kompetensi mereka tentang pemahaman budaya kita,” tandasnya.

Reporter: Mokhammad Sholeh

Editor: Della Cahaya