Perkembangan Wisata Tani Betet dari Tahun ke Tahun

Share this :
Sulap Sungai Hasil Normalisasi Menjadi Tempat Wisata

Nganjuk, koranmemo.com – Berawal dari normalisasi Sungai Apur di Desa Betet, Kecamatan Ngeronggot, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Betet berhasil menyulap kawasan ini menjadi tempat wisata. Tempat wisata berbasis pedesaan tersebut kini dikenal dengan sebutan WTB atau Wisata Tani Betet.

Sungai Apur mengalir melintasi Desa Betet yang mayoritas warganya Betet bermata pencaharian sebagai petani. Kegiatan pertanian di desa tersebut sangat tergantung oleh kondisi sungai itu. Jika musim hujan, air Sungai Apur meluap membanjiri sawah, karena mengalami pendangkalan dan ukurannya semakin menyempit dari tahun ke tahun.

Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya tanaman liar di tepian sungai yang mengakibatkan aliran air tidak dapat berjalan lancar. Hal inilah yang kemudian membuat para petani di Desa Betet menjadi resah, dan meminta adanya normalisasi Sungai Kapur.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya di tahun 2016 ide normalisasi air sungai ini disetujui oleh pemerintah desa setempat dengan bantuan dari Pabrik Gula Mrican. Pabrik tersebut bersedia memberikan bantuan dengan catatan, pemerintah desa mampu menyediakan lahan tanam tebu seluas 10 hektare untuk PG. Mrican.

Begitu kondisi tersebut dipenuhi oleh pemerintah desa, proses normalisasi pun dimulai. Sungai yang semula hanya selebar 1 meter, setelah proses normalisasi menjadi 6 meter. Pada tanggal 10 November 2016, Dinas Perikanan juga turut serta dalam acara peresmian normalisasi Sungai Apur dan memberikan bibit ikan bersisik sejumlah 10.000 ekor, guna mengembalikan keaneka ragaman hayati serta agar keseimbangan ekosistem sungai dapat terjaga.

Heri Siswanto, Pokdarwis Desa Betet mengatakan, masalah kembali muncul ketika musim kemarau tiba. Permukaan air tanah yang dalam berakibat pada tingginya biaya operasional petani untuk pengairan tanaman di sawah mereka.

Baca Juga: Berinovasi dan Berkolaborasi, Prinsip Seniman Lukis di Malang Saat Pandemi

“Maka kami buat embung (sekatan air sungai) sederhana yang terbuat dari papan kayu yang diletakkan di bawah jembatan. Kami berupaya agar permukaan air tanah bisa naik sehingga ketika kami memompa air tanah untuk pengairan tanaman tidak terlalu dalam. Jasi kami mampu menekan biaya BBM hingga 50 persen. Sumur-sumur rumah warga juga ikut merasakan keuntungannya. Mereka dapat menghemat listrik untuk penggunaan pompa air karena naiknya permukaan air tanah,” jelas Heri.

Melihat keadaan sungai yang airnya terus naik dan tidak pernah surut karena embung, pada tahun 2017, Pokdarwis didukung oleh Pemdes Desa Betet diberi dana bumdes sebesar Rp10 juta sebagai modal awal membuat Wisata Tani Betet.

Setiap hari Jumat, warga melaksanakan kegiatan gotong royong dan kerja bakti dengan menanam beraneka tanaman dan bunga di tepian sungai agar indah dan cantik. Pemeliharaan secara rutin juga mereka lakukan agar kawasan tersebuttetap bersih dan rapi. Warga bersama dengan pemdes juga melarang kegiatan mencari ikan dengan alat yang dapat merusak habitat dan ekosistem ikan, kecuali alat pancing biasa.

“Keinginan kami untuk dapat mempercantik daerah tepian sungai juga mendapatkan respon baik oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Tahun 2018 dari DLH membantu kami dengan menanam bunga Tabepuya dan Ketepeng Kencana di bibir sungai sepanjang 1 kilometer,” kata Heri.

Awal tahun 2019, kawasan wisata itu berkembang lagi dengan menambah perahu dan sepeda air dari hasil dana urunan Rp100 ribu per orang, dari 30 pemuda desa sebagai tanda dimulainya WTB. Mereka memanfaatkan barang-barang bekas, seperti tong bekas yang disulap jadi perahu, sepeda bekas disulap jadi sepeda air dan aksesoris di sudut-sudut tempat wisata berasal dari barang bekas.

Sejak peresmian hingga kini, WTB ramai dikunjungi para wisatawan dari dalam maupun luar desa yang ingin menyewa perahu dan sepeda ait untuk menyusuri Sungai Apur. Untuk masuk ke area tempat wisata hanya cukup membayar parkir kendaraan sebesar Rp 2 ribu dan untuk menikmati sensasi naik perahu cukup dengan membayar Rp 3 ribu per orang dua kali putaran dengan jarak tempuh 500 meter. Sedangkan sepeda air juga dikenakan tarif Rp 3 ribu per 10 menit.

Baca Juga: Seniman Kota Batu Gelar Pameran Lukisan di Kebun Bambu 

Adanya WTB ini juga membuat masyarakat sekitar desa yang belum mempunyai pekerjaan dapat dirangkul dan diberdayakan. Baik untuk menjadi pengurus ataupun juga bisa berjualan di area wisata dengan dibuatkan lapak-lapak jualan yang ditata dengan rapi.

Heri juga menyebutkan, inovasi akan terus dilakukan siring berjalannya waktu. Seperti penambahan armada perahu dan sepeda, sekaligus penambahan alat traspotasi juga wahana baru nantinya. “Rencananya, kami juga akan mempercantik WTB dengan membuat taman dan membuat green house.” pungkas Heri.

Reporter: Inna Dewi Fatimah

Editor: Della Cahaya