Pengusaha Tahu Rasakan Dampak Rupiah Melemah

Share this :

Jombang, koranmemo.com – Beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah. Sempat menyentuh angka Rp 15 ribu sekian per dollar AS, Jumat (7/9) siang nilai tukar rupiah menguat tipis pada kisaran Rp 14.9 ribu sekian.  Dampak melemahnya nilai tukar rupiah ini ternyata juga dirasakan kalangan produsen tahu. Mereka khawatir usahanya tutup karena mahalnya kedelai.

Salah satu pelaku industri tahu yang merasakan dampak ini yakni Sugiat (61). Mereka terancam bangkrut dengan naiknya harga kedelai sebagai bahan baku.

“Entah sampai kapan ini (rupiah melemah). Tapi lama-lama pastinya kita tidak bisa produksi,” ungkap Sugiat (61), warga Desa Sambirejo Kecamatan Jogoroto, saat diwawancarai wartawan Jumat (7/9).

Bukan tanpa alasan, dalam produksi tahu sehari-hari, Sugiat mengakui mengandalkan bahan kedelai impor dari Amerika. Sebab ia kesulitan mendapatkan bahan kedelai lokal.

“Bahan baku kita seadanya. Kalau (musim) panen kita pakek kedelai lokal. Tapi di Indonesia kan panennya paling lama tiga bulan, setelah tiga bulan sudah habis. Jadi terpaksa pakai kedelai Amerika,” bebernya.

Sugiat menguraikan, harga kedelai per kilogram hari ini naik hingga mencapai Rp 7.500. Padalah sebelumnyaa hanya Rp 6.700. Harga yang melambung tinggi tersebut, sudah pasti memberatkan para pelaku usaha pembuatan tahu.  “Dulu (panenan) bisa mencapai 1 ton lebih. Tapi kalau sekarang hanya 700 kuintal saja,” tuturnya.

Sementara, untuk mengimbangi mahalnya hargai kedelai, Sugiat memutuskan dengan memperkecil ukuran. “potongannya yang biasanya besar,terpaksa kami kecilkan,” beber Sugiat.

Untuk itu Sugiat berharap kepada pemerintah  agar bisa mencarikan solusi terbaik. “Mudah-mudahan bisa normal lagi,” pungkasnya.

Reporter : Agung Pamungkas

Editor : Della Cahaya