Cerita Sukses Rully Novianto, Pengrajin Furniture dari Desa Landungsari

Share this :

Malang, koranmemo.com – Mengawali usaha dengan musibah, Rully Novianto (40), pengrajin furniture asal Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini justru mampu bertahan hingga saat ini.  Dia bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar rumahnya.

Usaha furniture-nya ini baru berdiri 4 tahun yang lalu.  Sebelumnya, Rully bekerja sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan swasta.  Menurutnya, pekerjaannya ini banyak menyita waktunya, sehingga dia tidak ada kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, terutama kedua buah hatinya. Ketika dia berangkat, mereka belum bangun, dan ketika dia pulang, mereka sudah tidur.  Akhir pekan pun dia juga sering masih harus bekerja.

“Saya ingin lebih sering bersama mereka.  Apalag anak-anak beranjak dewasa dan membutuhkan perhatian orang tua,” ujarnya.

Sebelum mengundurkan diri, Rully sudah terlebih dahulu memikirkan rencana dia ke depan.  Dia yang memang sejak dulu tertarik dengan kayu dan memang memiliki bakat untuk membuat furniture sendiri, akhirnya memberanikan diri memulai jalannya sebagai seorang pengrajin furniture.

Baca Juga: Inovasi dan Kreasi Jadi Kunci Ketahanan Pangan Kota Malang

Sayangnya, sebelum ada orderan masuk, Rully harus tertimpa musibah.  Tangannya mengalami luka serius karena terkena peralatan furniture hingga menerima beberapa jahitan. Hal tersebut membuatnya terpaksa harus berhenti beraktivitas selama kurang lebih satu bulan.  Tak ada pemasukan, Rully bahkan sempat ingin kembali menjadi karyawan dan mengubur keinginannya membuka usaha sendiri.

Namun karena dukungan dari keluarga, pada akhirnya Rully menganggap luka ditanggannya tersebut adalah mahar untuk memulai karir di usaha furniture.  Memanfaatkan rumahnya yang tepat berada di tepi jalan, setiap hari Rully membuat produk furniture walaupun tak ada orderan. Hal tersebut menurutnya ia lakukan untuk menarik perhatian tetangga dan warga yang melintas agar mengetahui bahwa dia mendirikan usaha furniture.

“Pokoknya supaya orang yang lewat itu tau kalau disini mengerjakan furniture. Lambat laun dari titik awal itu hingga sekarang alhamdulillah gak berhenti orderan,” tuturnya.

Rully mengaku bersyukur sudah mengambil keputusan terjun di usaha furniture 4 tahun lalu. Karena kalau telat mengambil keputusan, dia tak bisa berkembang hingga seperti saat ini. Saat ini sudah ada 3 orang yang membantunya dalam melayani permintaan konsumen. Rully menganggap mereka sebagai partner kerja bukan sebagai karyawan.

Baca Juga: Pererat Persaudaraan, Pecinta Sepeda Mini Gelar Malang Lokal Contest Minion Minitrek

Rully juga mendorong partner kerjanya untuk mandiri sehingga dapat membuka usaha sendiri. Misalnya dengan cara menyisihkan uang gaji mereka untuk dibelikan alat kerja yang diberikan kepada mereka. Kini sudah 2 orang partner kerjanya yang membuka usaha furniture sendiri.

“Jadi dari musibah tangan kepotong, resign dari tempat kerja itu ada hikmahnya. Menurut saya kalau mau berwirausaha ya satu titik fokus itu, gak usah toleh kanan kiri, insya Allah bisa berkembang,” ujarnya.

Lebih lanjut menurut Rully, semangatnya semakin berkobar ketika mendapat orderan dari Rektor UMM yang memesan untuk membuatkan kerajinan berbahan kayu dengan menggambar wajah Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. Pesanan tersebut akan digunakan sebagai cindera mata untuk Sri Mulyani yang berkunjung ke UMM.

Selain itu ia juga pernah mendapat pesanan unik dari anggota Dewan dari Provinsi Kaltim. Pesanan tersebut membuat Rully bekerja dengan berpikir lebih keras, pasalnya pesanan tersebut berupa kursi berkaki 3 yang dapat berdiri dengan kokoh.

Salah satu dari partner Rully adalah seorang tuna daksa bernama Dodik. Menurut Rully, Dodik adalah sosok yang tidak pernah menunjukkan rasa lelahnya kepada orang lain di tengah keterbatasannya. Selain itu juga berkomitmen dalam mengemban kepercayaan yang sudah diberikan.

“Dia pokoknya kerja diupayakan semaksimal mungkin ‘aku sek iso’ (aku masih bisa) kadang kalau ditawari bantuan ‘gak Pak, aku dewe ae’ (tidak Pak, sendiri saja),” ujarnya menirukan kata yang sering diucapkan Dodik.

Baca Juga: Berinovasi dan Berkolaborasi, Prinsip Seniman Lukis di Malang Saat Pandemi

Rully juga membuka pelatihan gratis bagi siapapun dengan syarat serius dan benar benar mau belajar usaha furniture. Kesempatan tersebut menurutnya sangat baik bagi yang sedang mengalami keterbatasan baik fisik maupun finansial.

Rully mengatakan membuka pelatihan gratis tersebut adalah sebagai rasa syukur atas pencapaiannya saat ini. Menurutnya dia juga pernah merasakan bagaimana susahnya mencari penghasilan ketika mengawali usaha.

“Pokoknya punya niat, bukan sampingan saya gratiskan. Saya kasih pengenalan dasar-dasar bekerja sebagai pengrajin kayu,” ujarnya.

Reporter: Mokhammad Sholeh

Editor: Della Cahaya