Pengemis Dari Kalangan Anak Mewabah

Nganjuk, Memo – Eksploitasi anak akhir-akhir ini mulai mewabah di Kabupaten nganjuk. Hal itu terbukti dari banyaknya pengemis yang mayoritas dari kalangan anak-anak berkeliaran di kawasan ramai pengunjung. Ironisnya, mereka mengaku dipaksa orang tua melakukan hal itu karena hasil yang diperoleh sangat fantastis.

Anak-anak yang sedang menghitung uang hasil dari mengemis di Alun-Alun Nganjuk (andik/memo)
Anak-anak yang sedang menghitung uang hasil dari mengemis di Alun-Alun Nganjuk (andik/memo)

Pantauan Koran Memo, beberapa waktu lalu dua orang anak yang merupakan kakak beradik mengemis seperti biasa di alun-alun setempat. Yang kakak adalah seorang perempuan berusia belasan tahun, sedangkan adiknya laki-laki berusia kurang dari 10 tahun. keduanya berkeliling jantung kota menghampiri setiap pengunjung untuk meminta belas kasihan.

Saat ditanya terkait latar belakang anak tersebut sampai bisa menjadi pengemis, dengan polosnya dia menjawab karena disuruh oleh ayahnya. Yang lebih memprihatinkan, si anak juga bercerita jika seluruh anggota keluarga dipaksa mengemis oleh sang ayah. “Ibu sama adik saya juga mengemis, bapak ikut mengawasi dari kejauhan sambil merokok,” ungkap pengemis anak dengan nada polos.

Disinggung lebih lanjut masalah penghasilan yang dia peroleh dalam sehari, pengemis anak itu menjawab penghasilan paling minim sekitar Rp 50 ribu. Bahkan dalam sehari mereka biasa menghasilkan uang rata-rata mencapai Rp 300 ribu untuk disetor ke bapak. Sedangkan adiknya yang masih berusia di bawah 10 tahun juga menjawab dengan polos jika sehari paling minim dia menghasilkan Rp 21 ribu.

Parahnya, anak seusia itu sudah dicuci otaknya oleh bapak mereka sendiri. Sang bapak mengajari kepada anaknya agar menjauh jika ada polisi, tentara, ataupun Satpol PP. karena mereka beberapa kali terjaring razia, tapi bukan membuat jera melainkan si anak justru diajak berpindah lokasi mengemis beberapa kali.

Menanggapi masalah ini, Raditya Yuangga, anggota komisi B DPRD Nganjuk segera memberikan teguran keras kepada orang tua anak dengan didampingi perangkat desa dan aparat hukum. Namun ternyata peringatan dari Angga tidak diindahkan oleh bapak yang melakukan eksploitasi terhadap anaknya ini. Pihak dewan justru menerima laporan jika si anak masih tetap mengemis namun berpindah lokasi di area Pasar Nganjuk.

“Orang tua anak ternyata masih tetap melakukan eksploitasi terhadap anaknya. Bapak itu tidak mau bekerja tetapi justru anak serta istrinya yang disuruh mencari uang dengan cara mengemis. Kita dalam waktu dekat akan segera menindak tegas bapak itu dengan mendatangkan aparat penegak hukum,” tegasnya.

Terpisah, Trisna Eka Setyawati, salah satu aktivis peduli anak di Kabupaten Nganjuk, memberikan tanggapan perihal masalah ini. Dia menyayangkan perda tentang larangan mengemis yang ternyata belum diindahkan oleh masyarakat maupun pelaku pengemis itu sendiri. Dia meminta agar satpol pp mengambil langkah tegas karena masa depan anak-anak kali ini juga menjadi taruhan.

“Intinya perda yang sudah dibuat harus dijalankan sehingga tidak hanya menjadi pajangan semata. Karena Nganjuk merupakan lokasi yang menjadi sasaran target bagi para pengemis. Apalagi kini anak-anak juga sudah mulai dilibatkan, jadi harus dijalankan perda yang ada,” ujarnya. (and)