Pengedar Narkoba Selalu Bawa Senpi Saat Transaksi

Sidoarjo, koranmemo.com – Seorang pengedar narkoba di Sidoarjo selalu membawa senjata api (Senpi) setiap kali bertransaksi. Dia adalah Jamil Yusuf, (40) asal Desa Jatikalang, Kecamatan Krian, Sidoarjo yang selama ini tinggal di tempat kos di Desa Bangsri, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.

Ketika digerebek petugas di tempat kosnya, pria yang sedang proses cerai dengan istrinya tersebut kedapatan menyimpan tiga pucuk senjata api jenis gas gun. Dua senjata itu jenis laras panjang, dan satu laras pendek.

“Atas kepemilikan senjata itu, tersangka dijerat dengan undang-undang darurat,” kata Kasat Reskoba Polresta Sidoarjo AKP M Indra Nadjib, Rabu, (9/10/2019).

Kepada petugas, Jamil mengaku sengaja membawa senjata untuk berjaga-jaga demi keamanannya. Diungkapkan, risiko menjadi pengedar narkoba juga cukup besar.

“Petugas juga masih mendalami tentang kepemilikan senjata itu. Dari pemeriksaan sementara, diketahui satu dari tiga senjata itu sudah rusak. Yakni salah satu senjata laras panjang,” urai Indra.

Jamil merupakan pengedar narkoba yang sudah lama diincar petugas. Sepak terjangnya di dunia narkoba juga cukup tinggi. Dia dikenal sebagai salah satu pengedar besar yang biasa beroperasi daerah Sidoarjo barat.

Dia juga sudah keluar masuk penjara. Terakhir tertangkap kasus narkoba tahun 2012 dan divonis 6 tahun penjara. Setelah sekitar 4 tahun menjalani hukuman di Rutan Medaeng, dia bebas tahun 2016 lalu.

Setelah bebas pun pria yang bekerja sebagai penjual barang bekas ini kembali melanjutkan bisnis haramnya sebagai pengedar sabu. Sampai akhirnya kembali ditangkap polisi.

“Ditangkap di tempat kosnya. Ditemukan dua paket sabu yang disembunyikan di kardus bekas bungkus roti kebab dan ditaruh di keranjang sampah,” urai Indra.

Selain itu, juga ditemukan sebuah timbangan elektrik di tempat tidurnya. Dan diamankan tiga pucuk senjata gas gan tersebut.

Dalam pemeriksaan, Jamil mengaku baru saja kulakan sabu dari seorang perempuan bernama Ida. Dia beli 4 gram sabu seharga Rp 3,7 juta.

Disebutnya sudah beberapa kali kulakan ke bandar ini. “Janjian ketemu di Surabaya. Di jalan dekat Wonokromo,” jawab Jamil.

Sepulang dari sana, dia lantas membagi sabunya menjadi tiga poket besar dan beberapa paket kecil. Ada beberapa yang sudah terjual, dan sisanya yang ditemukan polisi dalam penggeledahan itu.

“Transaksinya pakai ponsel dulu, kemudian janjian ketemuan di pinggir jalan,” akunya.

Reporter Yudhi Ardian
Editor Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date