Penetapan Bangunan Cagar Budaya Harus Meningkatkan Taraf Hidup Masyarakat Sekitar

Malang, koranmemo.com – Pembangunan koridor di kawasan Kayutangan Heritage digadang-gadang akan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan di Kota Malang. Pengamat dari Universitas Brawijaya (UB) Malang berpendapat, penetapan bangunan cagar budaya dan segala manfaatnya harus berdampak pada peningkatan taraf hidup bagi masyarakat sekitar.

“Kalau diperindah dan dipercantik ya silahkan tetapi harus ada peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitarnya. Tidak semerta-merta mempercantik bangunannya, tapi kualitas hidup masyarakat sekitarnya juga harus ikut meningkat lebih baik dari pada sebelumnya,” tutur Antariksa, Guru Besar Arsitektur Universitas Brawijaya Malang.

Menurutnya, proyek pembangunan yang bertujuan memperindah kawasan Kayutangan tersebut tidak menjadi permasalahan asalkan tidak mengubah atau menghilangkan fisik arsitektur bangunan cagar budaya. Bangunan yang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya harus dilindungi dan pengelolaan yang benar oleh pemerintah.

Dia berpendapat, segala bentuk pemanfaatan dan pengelolaan bangunan cagar budaya harus memberikan dampak bagi masyarakat setempat maupun sekitarnya.

“Tidak bisa kalau bangunan itu diperbaiki, dipertahankan secara fisik, dikunjungi wisatawan, tetapi lingkungan sekitarnya tidak mendapatkan keuntungan dari pelestarian tadi, itu tidak ada manfaatnya. Sosial ekonomi budaya masyarakat sekitarnya juga harus lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.

Lebih jauh dia menambahkan, pemerintah harus mengelola bangunan cagar budaya dengan baik. Komunikasi dan sinergi antara Pemerintah dengan pemilik bangunan cagar budaya juga harus terjalin dengan baik.

“Misalnya ada bangunan dilindungi, tapi pemerintah tidak memberikan kompensasi atau pemeliharaan kalau ada kerusakan harus bagaimana kan juga sulit. Kalau sekedar menetapkan bangunan yang dilindungi ya gampang tapi kalau pemiliknya ada yang mengeluh kerusakan bagaimana,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan kampung di kawasan Kayutangan maupun di sekitarnya juga perlu ditingkatkan. Karena kampung sekitar kawasan tersebut juga memberikan kontribusi dalam menunjang kelengkapan obyek wisata di kawasan Kayutangan Heritage. Hal tersebut juga dapat memperkaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas ekonomi masyarakat setempat maupun sekitarnya.

“Di sepanjang kayutangan itu potensinya besar terutama di belakang, kampung-kampungnya juga banyak sebetulnya. Prinsip pelestarian itu adalah proses, bukan proyek. Ada di sepanjang masa, tidak bisa sebulan dua bulan selesai, harus terus berkelanjutan,” tambahnya.

Jika perpaduan antara pelestarian cagar budaya dengan wisata pedestrian di kawasan Kayutangan bisa berjalan dan berkelanjutan dengan baik maka akan menjadi daya tarik yang unik bahkan akan menjadi icon di Kota Malang sebagai tujuan destinasi wisatawan.

“Jadi bagaimana bangunan ini dapat dialihfungsikan menjadi sesuatu yang baru untuk menarik perhatian wisatawan untuk datang dan melihatnya. Berarti sarana prasarana disana harus bagus, jaringan jalan, listrik, air bersih, internet, keamanan, parkir harus terjamin dengan baik, agar masyarakat bisa dan mau datang kesana,” tuturnya.

Menurutnya, kawasan Kayutangan dulunya adalah kawasan perdagangan. Untuk itu dia menyarankan jika ada revitalisasi sebaiknya dikembalikan dulu sesuai fungsinya sebagai pusat perdagangan. Hal ini juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

“Kalau perdagangan kan sepanjang hari ada aktifitas baik pagi, siang dan malam. Harus dimanfaatkan seperti itu, karena Kayutangan yang sebelun ada perbaikan ini kan siang saja sepi, apalagi kalau malam, padahal di pusat kota,” ujarnya.

Dia menyarankan agar daya tarik dan fungsi di kawasan Kayutangan dimunculkan kembali sebagai pusat perdagangan dengan arsitektur bangunan yang tetap dipertahankan. Dengan demikian masyarakat maupun wisatawan akan berkunjung dikawasan tersebut.

“Potensi bangunan dan kampung disana kan besar, pengelolaan yang baik akan dapat memberikan dampak yang baik pula bagi keberlangsungan masyarakat,” tambahnya.

Reporter: Mokhammad Sholeh

Editor: Della Cahaya