Penambakan Udang Masih Potensial Dikembangkan di Pesisir Selatan

Share this :

Trenggalek, Koranmemo.com – Penambakan udang masih potensial dikembangkan di wilayah pesisir selatan Jawa. Saat ini pelaku penambakan udang mayoritas tumbuh di wilayah Pantai Utara (Pantura). Peluang penambakan udang ini terlihat dari kuantitas suplai kebutuhan udang yang masih jauh dari rata-rata. Untuk itu pemerintah berencana mengembangkan penambakan udang di wilayah Pantai Selatan (Pansela).

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, wilayah pesisir selatan Jawa cocok untuk dikembangkan penambakan udang. Selain kondisi geografis, pengembangan penambakan udang didukung kualitas air laut yang baik. “Memiliki anugerah air laut yang sangat baik, jadi sangat potensial,” ujarnya dalam panen raya Udang Vanamei di IBAL Prigi, Jumat (10/1).Sejauh ini wilayah pantai utara mendominasi penambakan udang. Meskipun demikian, suplai kebutuhan produksi udang di wilayah Jawa Timur tak sepenuhnya tercukupi. Jawa Timur menyumbang sekitar 70,8 persen kebutuhan produksi udang vanamei dari sekitar 124 ton. “Ada tanah yang nantinya bisa dijadikan jadi tambak, mulai Pacitan hingga Blitar. Udang vanamei tengah berkembang,” jelasnya.

Data tahun 2018, jumlah petambak udang di Jawa Timur sekitar 40 ribu orang dengan luasan tambak mencapai sekitar 45 ribuan hektare. Meskipun demikian, kebutuhan produksi udang vanamei masih masif, bahkan cenderung kekurangan. “Kita masih (sekitar 90 an ton), jadi masih potensial,” kata Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, Hari Pranoto.

Meskipun demikian untuk pengembangan budidaya udang vanamei tak sepenuhnya berjalan mulus. Terdapat beberapa kendala teknis dan non teknis, diantaranya adalah pergolakan harga pasar yang saat ini didominasi suplai produksi dari wilayah Pantura. “Di Pansela sebetulnya ada, namun masih skala kecil. Makanya tadi Pak Wagub memprogramkan di wilayah selatan,” jelasnya.

Selain wilayah, dukungan penerapan standar operasional prosedur (SOP) pro biotik berbasis herbal sangat berpengaruh. Dengan penerapan itu, masa panen lebih singkat dan hasilnya lebih baik. Jika umumnya masa panen membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 4 bulanan, dengan SOP itu masa panen dipangkas menjadi sekitar 70 hari. “SOP ini sudah diterapkan oleh petambak di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu