Pelajar Gelar Kotekan Lesung

Perayaan Kenaikan Yesus Kristus dan Panen Raya

Jombang, Memo – Umat kristiani Desa / Kecamatan Mojowarno memiliki cara unik saat merayakan kenaikan Yesus Kristus yang bersamaan dengan panen raya, Kamis (5/5). Mereka terutama pelajar dan pemuda Desa Mojowarno, memperingati perayaan tersebut dengan menggelar kotekan lesung sembari menyanyikan lagu-lagu tradisional.

Kotekan lesung yang dilakukan pelajardan pemuda desa dalam rangka kenaikan yesus kristus dan panen raya (agung/memo)
Kotekan lesung yang dilakukan pelajardan pemuda desa dalam rangka kenaikan yesus kristus dan panen raya (agung/memo)

Alunan suara lesung itu terdengar dari halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno. Remaja putra dan putri dengan berbusana tradisional khas petani desa terlihat piawai menabuh alat penumbuh padi kuno tersebut. Meski nampak sederhana, musik tradisional diiringi tembang Jawa ‘Lebar Panene’ membuat suasana saat itu serasa ada di zaman dahulu. “Kami ingin melestarikan budaya kotekan lesung ini agar tak punah. Karena ini menjadi budaya para petani kita setiap selesai panen raya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan,” kata Wimbo Sancoko, Pendeta GKJW Mojowarno, Kamis (5/6).

Wimbo menjelaskan, sebelum mesin penggiling padi ada, para petani tradisional memanfaatkan lesung untuk menumbuk padi agar menjadi beras. Pada zaman dahulu, kaum ibu secara bergotong-royong menumbuk padi sehingga menimbulkan suara yang bertalu-talu tek tok tek dug itu.

Namun, seiring kemajuan teknologi, alat tumbuk tradisional itu telah ditinggalkan oleh masyarakat petani. Menurutnya, saat ini petani yang mempunyai lesung sudah sangat langka. Untuk itu, kalangan pelajar dilibatkan dalam kotekan lesung kali ini agar mereka mau melestarikan budaya nenek moyang itu. “Kami memilih generasi muda supaya mereka melestarikan budaya ini agar tak punah. Kita tahu budaya ini hampir punah, karena pemilik lesung semakin sedikit,” ujarnya.

Sementara, acara kotekan lesung ini setidaknya dimeriahkan 60 pelajar dan muda-mudi Desa Mojowarno. Secara bergiliran, setiap grup yang terdiri dari 10 orang menampilkan kreasi musik mereka.

Meki terlihat sederhana, ternyata tak mudah untuk memainkan alat musik tradisional ini. Terlebih lagi harus memadukan kekompakan antar pemain. “Kekompakan yang paling sulit untuk mempertahankan tempo. Karena dimainkan banyak orang,” kata Givi Indah Septiliana (16), salah satu penabuh lesung

Agar bisa tampil maksimal, Givi mengaku berlatih bersama kelompoknya selama seminggu terakhir. “Masyarakat sudah banyak yang lupa budaya kotekan lesung ini. Kami ingin mengingatkan kembali agar tetap lestari,” pungkas Givi. (ag)

 

Follow Untuk Berita Up to Date