Pasung Masih Terjadi di Trenggalek, 7 Tahun Pria Ini Baru Dibebaskan

Trenggalek, koranmemo.com – Praktik pasung masih terjadi di Trenggalek. Sedikitnya saat ini ada tiga warga yang masih mengalami pemasungan pasca pembebasan pasung seorang warga Desa Gamping Kecamatan Suruh, Senin (2/9). Warga yang dibebaskan dari praktik pasung oleh Pemkab Trenggalek itu adalah Asman Budi (40). Dia sudah terpasung hampir tujuh tahun, tepatnya sejak tahun 2012.

Dia dipasung dengan kerangkeng gantung di tempat berukuran 1×2 meter. Dia dipasung oleh  keluarga karena sering mengalami temperamen, akibat gangguan jiwa yang dideritanya. Selain itu dia juga sering membuat kegaduhan di lingkungannya sehingga pihak keluarga memutuskan untuk memasung. Akhirnya dia dibebaskan dan menjalani perawatan di RSUD pelat merah.Kepala Seksi Disabilitas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Trenggalek, Sri Winarti mengatakan, Asman Budi dibawa ke ruang Nusa Indah untuk menjalani pengobatan. “Dengan evakuasi ini, data Dinsos PPPA Kabupaten Trenggalek mencatat, warga yang masih terpasung tinggal tiga orang,” jelasnya, Senin (2/9).

Ia menyebut Kabupaten Trenggalek melepaskan bebas pasung secara massal sejak 2017. Sebanyak 150 orang dibebaskan dari pasung dan dua diantaranya meninggal dunia. Diharapkan tahun ini Kabupaten Trenggalek bebas pasung. “Sebelumnya, sudah dievakuasi dan dikirim ke (Rumah Sakit Jiwa) Lawang. Namun karena ada kegaduhan, dipasung ulang,” kata dia.

Kepala Ruang Inap Nusa Indah RSUD Dokter Soedomo Trenggalek, Didik Catur menyebut, saat ini merawat sebanyak lima orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Ruang itu khusus untuk merawat pasien dengan latar belakang gangguan jiwa. “Ada empat kamar dan tujuh tempat tidur. Ini dibentuk tahun 2017, selama ini ruang selalu penuh pasien keluar masuk,” kata dia.

Ia menyebut, selain RSUD Trenggalek juga ada Puskesmas Karanganyar dengan fasilitas sepuluh kamar di Kecamatan Gandusari yang menerima pasien ODGJ.” Selain itu, ODGJ di Kabupaten Trenggalek eks-pasung juga ada yang dirawat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtabiin Gunung Kebo,” pungkasnya.

Data yang dihimpun, pasien yang dirawat di sana adalah ODGJ yang ditolak oleh keluarga. Menurut data Dinsos PPPA, ada sekitar 40 ODGJ yang dirawat di sana hingga April lalu. Jumlah itu dimungkinkan bakal bertambah seiring penderita ODGJ yang cenderung bertambah.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date