Pasca Kericuhan Berdarah di Wamena, Satu Lagi Warga Kota Kediri Pulang Kampung

Kediri, koranmemo.com — Satu lagi warga Kota Kediri yang kembali pasca kerusuhan yang terjadi di Wamena beberapa waktu terakhir. Kali ini, warga Kelurahan Sukorame Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, Lestari Wibowo (35) kembali berkumpul dengan keluarga setelah menempuh perjalanan selama satu minggu, keluarga khawatir karena sempat tidak mendapat kabar.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri, Triyono Kutut Purwanto mengatakan, sebelumnya Dinsos mendapat informasi dari Dinsos Jawa Timur (Jatim) mengenai kedatangan warga Jatim yang merantau di Wamena. “Pertama kami mendapat informasi ada 94 orang yang tiba di Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) III Malang,” jelasnya, Kamis (10/10).Namun, informasi yang diperoleh hanya kota atau kabupaten saja, untuk nama dan alamat pasti masih belum diketahui. Akhirnya, warga dari Kediri dari Bandar Udara Abdulrachman Saleh Kabupaten Malang, menuju ke Kabupaten Tulungagung. Petugas dari Dinsos Kota Kediri segera memeriksa warga yang tiba dari Wamena tersebut.

Ternyata, saat petugas mencoba menanyakan nama dan alamat, ternyata masih belum sesuai dan sempat susah berkomunikasi. Dari keterangan awal, mengaku bernama Nur Saleh yang beralamat di Kelurahan Sukorame namun Kecamatan Mojo. Ini yang membuat petugas sempat kebingungan, akhirnya petugas berkoordinasi dengan Kelurahan Sukorame dan mengirimkan foto.

Hal senada diutarakan Arif Budi Nurcahyo, Kepala Kelurahan Sukorame, setelah mendapat informasi dan foto, akhirnya nama Nur Saleh adalah ketua RT 12 RW 05 sehingga petugas segera menuju ke Kantor Kelurahan Sukorame. “Nama aslinya Lestari Wibowo, dia memang tinggal di sini dengan kakaknya. Rabu (9/10) malam sekitar pukul 22.00 WIB kami melakukan serah terima kepada pihak keluarga,” ucapnya.

Sementara itu, Sri Mariani (48) kakak perempuan Lestari yang mendapat informasi segera pulang ke rumah. Saat itu, dia berada di Nganjuk, karena selama ini bekerja di sana. Menurutnya, Lestari pergi merantau ke Wamena sekitar enam bulan terakhir. Di sana dia bekerja di toko sembako dan mempunyai pekerjaan sambilan lainnya.

Sri menanyakan kepada Lestari bagaimana suasana di sana, selama hampir enam bulan ternyata kehidupan di sana cukup baik. “Katanya di sana baik-baik saja, dia juga mulai betah. Tapi, sebulan terakhir mulai ada konflik, suasana di sana berubah dan cukup mencekam. Bahkan, satu bulan terakhir, Lestari tidak memberikan kabar,” tuturnya.

Padahal, selama Lestari tinggal di Wamena, hampir setiap hari memberikan kabar kepada saudara di Kediri. Keluarga merasa khawatir karena tidak ada kabar dan kepastian mengenai keberadaan dan kondisi Lestari. Sampai akhirnya, satu minggu sebelum Lestari tiba di rumah, Sri mendapat kabar dari salah satu teman Lestari bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja dan akan pulang dalam waktu dekat.

Sejak Rabu (9/10) malam, lanjutnya, teman-teman Lestari berkunjung ke rumah. Mereka berusaha untuk menghibur sehingga Lestari tidak mengingat kejadian yang dialaminya selama berada di Wamena. “Tadi malam teman-temannya datang, mereka juga membakar jagung di teras. Tapi, mulai pagi tadi dia sudah pergi, katanya ingin bertemu temannya. Dia masih belum berani bertemu dengan petugas kesehatan,” ucapnya.

Sri juga menjaga tutur katanya saat Lestari pulang, sebisa mungin dia tidak menanyakan secara detail kejadian di Wamena. “Alhamdulillah tidak ada perubahan, saya juga belum bertanya apa saja yang terjadi di sana, khawatir kalau ngobrol terus dia ingat kejadian di sana. Tapi, dia masih merasa takut. Dia pulang ke rumah hanya membawa satu setel pakaian yang dipakai. Telepon genggam dan uang juga tidak ada, katanya lupa,” imbuhnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date