Pasca Banjir dan Jalan Ambles di Trenggalek, Ini Kata Wagub Jatim

Share this :

Trenggalek, koranmemo.comTim dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) akan segera meninjau lokasi badan jalan yang ambles di ruas jalan nasional Trenggalek-Pacitan, tepatnya di kilometer (KM) -47 masuk wilayah Desa Cakul Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek. Hal ini disampaikan oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak saat menyambangi warga terdampak banjir di Kabupaten Trenggalek, Minggu (10/3).

Sebelumnya jalan nasional itu ambles pasca diguyur hujan deras pada 6 Maret dan 7 Maret. Tak hanya mengakibatkan kerusakan di jalur utama yang menghubungkan dua wilayah di pesisir selatan Jawa Timur. Hujan deras yang belakangan mengguyur wilayah Kabupaten Trenggalek berdampak pada bencana banjir dan tanah longsor di 41 desa atau kelurahan dari 10 kecamatan. Banjir dan tanah longsor berdampak pada 5 ribu kepala keluarga (KK) dengan jumlah warga mencapai lebih dari 17.200 orang.

“Kemudian ada lagi yang mengancam jalan seperti di Desa Cakul Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek. Untuk jalan ambles seperti di Cakul kami sudah koordinasi dengan BBPJN dan timnya akan segera datang. Cuman karena kami harus segera berangkat, sehingga mungkin mereka akan meninjau lapangan secara langsung,” kata Emil saat dikonfirmasi awak media di Trenggalek, Minggu (10/2). Emil menyebut, Pemprov juga telah mengklasifikasikan penanganan bencana banjir di 15 daerah terdampak banjir di Jawa Timur.

Sebelumnya ruas jalan nasional itu mengalami ambes pada Rabu (6/3). Jalan tersebut ambles dengan kedalaman sekitar dua hingga empat meter, pada kedalaman tebing sekitar 20 meter.  Sedangkan panjang jalan yang ambles mencapai sekitar 20 meter hingga 40 meter sehingga untuk saat ini jalan tersebut hanya bisa dilalui sebelah sisi. Saat ini sudah dipasang garis tanda bahaya dan papan himbauan.

“Panjang sekitar 40 meter dan kedalaman ambles 3 meter. Untuk sebagian yang tiga meter bagian kanan jalan masih bisa dilalui dan sudah ditutup sebelah sisi,” kata Rio Feoni, penilik jalan batas Kabupaten Pacitan sampai daratan Trenggalek sampai Ponorogo Dengok Kabupaten Ponorogo, BBPJN kepada awak media saat dikonfirmasi ketika meninjau lokasi.

Berdasarkan analisa di lapangan, lanjut Rio terdapat sebanyak tiga titik jalan ambles yang dinilai membahayakan di sepanjang jalur Kabupaten Trenggalek menuju Kabupaten Pacitan. Namun untuk penanganan lebih lanjut, dia menyebut akan dilakukan oleh BBPJN yang menaungi jalan nasional tersebut. Selain menghubungkan dua daerah pesisir selatan, jalan nasional itu juga merupakan akses warga Kecamatan Panggul menuju daerah kota di Kabupaten Trenggalek.

Untuk diketahui sebelumnya, jalur nasional itu ambles pada pada Rabu (6/3) petang, ketika terjadi hujan deras. Sebelum ambles, sebagian badan jalan sudah mengalami retak.  Secara perlahan, jalur mengalami ambles hingga akhirnya memakan separo badan jalan selebar sekitar empat meter.

Penanganan banjir di Kabupaten Trenggalek harus dilakukan secara berkesinambungan sehingga membutuhkan proses yang cukup panjang. Terlebih geografis Bumi Menak Sopal, sebutan Kabupaten Trenggalek yang kaya akan potensi dan keindahan alamnya disisi lain memiliki potensi risiko bencana yang cukup tinggi. Misalnya banjir dan tanah longsor yang dinilai ‘langganan’ hampir terjadi setiap tahun.“Sama seperti situasi di Ngasinan (sungai,red) kaitannya dengan Bendungan Tugu. Ini akan mengurangi (dampak banjir,red) apabila Bendungan Bagong yang saat ini memang sudah ditandatangani kontrak pelaksanaannya. Kalau ditanya apa solusi jangka panjangnya, ada cuman masih berjalan. Kami di provinsi berkomitmen mengawal PSN untuk dilaksanakan secara lancar,” kata Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur.

Selain solusi jangka panjang, penanganan jangka pendek, lanjut Mas Emil, sapaan akrabnya juga harus dilakukan. Baik reboisasi, membersihkan lingkungan dari sampah serta tidak membuang sampah sembarangan menjadi langkah nyata yang dapat dilakukan warga untuk mendukung penanganan darurat bencana secara masif. Mas Emil menyebut, untuk merealisasikan itu perlu gotong royong baik dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah, serta masyarakat.

“Penanganan darurat fleksibilitas, semua bisa masuk, sifatnya darurat bukan pembangunan struktur itu bisa. Disini, kami perlu gotong royong, misal di Kelutan ada enam titik tanggul jebol, di pemda ada dananya, kemudian provinsi akan turun tangan dan kami bagi dengan daerah lain. Sebanyak 15 kabupaten atau kota terkena dampak banjir, megin genion oceanation (MGO) masih memicu terjadinya hujan deras, betul sekali selokan segera dibersihkan karena itu bisa mengurangi kerawanan banjir,” jelasnya.

Mas Emil menyebutkan, untuk menanggulangi berbagai dampak bencana banjir di Jawa Timur, Pemprov telah mengambil sejumlah langkah. Langkah yang dilakukan, lanjut suami mantan artis Arumi Bachsin memiliki retinasi yang berbeda. Namun berdasarkan analisa dilapangan beberapa daerah juga membutuhkan penanganan darurat kebencanaan yang sama.

Karena, lanjut Mas Emil, jika tidak segera ditanggulangi dikhawatirkan jembatan penghubung Kabupaten Tulungagung dengan Kabupaten Trenggalek akan terdampak dari ambrolnya plengsengan kurang lebih sepanjang 30 meter. Prioritas penanganan  infrastruktur adalah dengan mengutamakan beberapa infrastruktur yang berkaitan dengan pemukiman warga, jalan dan jembatan yang dinilai vital.

Dislokasi yang sama, Joko Irianto, Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengatakan, telah menyiapkan dana untuk proses penanggulangan dampak banjir dan tanah longsor yang sebelumnya melanda sebanyak 41 desa atau kelurahan dari 10 kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Dalam bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada 6 hingga 7 Maret berdampak pada 5.000 kepala keluarga (kk) dan lebih dari 17.200 orang.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu