Partai Oposisi dan Pendukung Pemerintah Terlibat Kerusuhan di Parlemen Taiwan

Share this :

Taipei, koranmemo.com – Kerusuhan terjadi pada parlemen Taiwan saat partai oposisi pemertintah, Kuomintang (KMT) melakukan protes terjadap pemerintah yang dianggap bertindak sewenang-wenang. Senin (29/6), kerusuhan ini terjadi saat anggota parlemen dari Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa menerobos barikade yang didirikan oleh KMT saat melakukan protes.

Ketika pembongkaran barikade dilakukan oleh anggota parlemen dari DPP, terjadi bentrokan yang disertai oleh teriakan-teriakan. Pihak KMT sendiri menyayangkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh DPP tersebut dan memilih untuk menarik diri.

“Ini adalah hal yang sangat berbahaya. Anda tidak dapat memperlakukan kolega anggota parlemen seperti itu,” kata anggota parlemen dari KMT, Wayne Chiang dikutip dari Reuters.

Sebelumnya, barikade itu dipasang oleh lebih dari 20 anggota parlemen dari KMT sejak Minggu malam, dan bertujuan untuk menghalangi anggota parlemen untuk memasuki ruangan utama. Hal ini dilakukan akibat pemerintah yang dianggap telah memaksakan kehendak melalui undang-undang. Mereka juga menuntut presiden untuk mencabut pencalonan seorang petugas pembantu dilakukan dengan pengawasan tingkat tinggi.

Menanggapi kerusuhan yang terjadi di parlemen, Pemerintah Taiwan mengatakan, pihaknya benar-benar mengutuk tindakan yang dilakukan oleh KMT. Seiring dengan pernyataan pemerintah, DPP juga mengecam tindakan tersebut dan menganggap KMT sedang melakukan sandiwara jenaka.

KMT sendiri merupakan partai yang lebih menyukai hubungan dekat dengan China yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya. Akibatnya, KMT kalah dari pesaingnya, DPP pada pemilihan legislatif dan presiden pada bulan Januari lalu.

Awal bulan ini, KMT juga mengalami kekalahan pada pemilihan Walikota Kaohsiung, padahal KMT merupakan pengusung calon petahana. Suatu hal yang menunjukan KMT telah mengalami kemunduran yang signifikan dalam hal kepercayaan dari masyarakat.

Untuk mengatasi hal itu, saat ini KMT sedang menjalani perombakan kebijakan secara signifikan untuk memulihkan dukungan. Namun, sepertinya KMT harus menempuh jalur yang sangat terjal untuk mencapai hal itu, karena masyarakat Taiwan lebih menginginkan untuk merdeka sepenuhnya dari China.

Keinginan masyarakat Taiwan untuk terlepas dari bayang-bayang China sebenarnya bukan suatu hal yang baru. Pada tahun 2014, ratusan siswa menduduki parlemen selama berminggu-minggu dalam protes yang dijuluki Gerakan Bunga Matahari. Aksi itu dilakukan untuk menuntut transparansi terkait pengaruh ekonomi dan politik Tiongkok yang meningkat di Taiwan.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya