Pandemi Covid-19, Nasib Buruh Pabrik Belum Jelas

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Hingga memasuki masa kelaziman baru saat ini nasib para buruh pabrik belum ada kejelasan. Mayoritas dari mereka belum mendapat pekerjaannya kembali setelah dirumahkan beberapa bulan akibat adanya pandemi Covid-19.

Wahyudi (28) warga Desa Jatisari Kecamatan Lengkong, buruh pabrik di Surabaya sampai saat ini masih menganggur. Ketika ditemui di rumahnya, Selasa (21/7) dia mengaku belum mendapatkan pekerjaan sama sekali sejak dirumahkan. Kebutuhan sehari-hari keluarga yang biasanya ia tanggung, saat ini hanya bisa terpenuhi dengan mengandalkan bantuan dari pemerintah.

“Saya belum berkeluarga, tapi saya harus menghidupi ibu saya. Kebutuhan sehari-hari saya yang menanggung. Sudah mencoba mencari pekerjaan sana sini, namun belum juga dapat. Pernah mencoba usaha lain, tapi karena modal sedikit, usaha juga tidak dapat berjalan baik,” ujar buruh pabrik Frozen food tersebut.

Keluhan serupa disampaikan oleh Binti (19) warga Desa Tembarak Kecamatan Kertosono, yang dirumahkan dari pabrik rokok tempatnya bekerja. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, ia mencoba untuk berjualan makanan ringan secara online.

Walaupun pendapatan dari jualan online tidak sebanding dengan gajinya semasa kerja di pabrik, Binti bersyukur sudah dapat pemasukan untuk kebutuhan sehari-harinya. “Walaupun sedikit, yang penting bisa ada pemasukan dan tidak meminta orang tua,” ujar gadis lulusan SMK tahun lalu ini

Sementara itu, nasib beruntung dialami Rohman (35) warga Desa Tanjung Kecamatan Kertosono. Rohman yang sehari-harinya bekerja di salah satu pabrik di Kecamatan Lengkong, kini dapat bekerja kembali setelah menganggur selama berbulan-bulan. Ia mengaku sempat terhimpit ekonomi setelah dirumahkan oleh pabrik, bahkan untuk membeli susu anak dan kebutuhan sehari-hari saja kesulitan.

“Sebelum ada bantuan pemerintah, kami tidak tahu akan dapat pemasukan darimana. Sempat sama-sama menahan lapar. Karena tabungan habis dan anak juga perlu diperhatikan gizinya. Saya dan istri sempat mengalami pertengkaran akibat keadaan ekonomi yang memburuk. Alhamdulillah, saat ini saya dapat panggilan kerja lagi dan di situ saya sangat lega,” ujar Rohman.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kelik Wahyu Wahyuno, Ketua DPC KSBSI Nganjuk mengatakan, menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 12 tahun 2003 tentang perusahaan merumahkan karyawan, apabila perusahaan tersebut mampu membayar penuh karyawan, maka wajib untuk perusahaan tersebut membayar karyawan dengan gaji penuh. “Bila perusahaan tidak mampu, karyawan tetap mendapatkan gaji namun lima puluh persen dari gaji penuh. “Itupun harus melalui kesepakatan antara perusahaan dan serikat pekerja,” ujarnya.

Ditambahkan, jika terdapat buruh yang tidak mendapatkan gaji penuh, harus dipastikan terlebih dahulu bagaimana status karyawan tersebut di perusahaan tempat dia bekerja. Status karyawan tetap, karyawan kontrak, karyawan abu-abu atau karyawan tidak tetap.

“Kita tidak dapat langsung menghakimi perusahaan tersebut, kenapa tidak menggaji penuh karyawannya saat dirumahkan, sebelum kita tahu apa status karyawan tersebut. Karena bisa jadi karyawan yang dirumahkan adalah karyawan abu-abu,” katanya.

Reporter Andik Sukaca/ Inna Dewi Fatimah
Editor Achmad Saichu