Pabrik Rokok Berdaya, Karyawan Jadi Bahagia

Blitar, Koranmemo.com – Usaha di bidang produksi rokok benar-benar membawa manfaat bagi warga sekitar. Meski penghasilan tak seberapa setidaknya bisa mengangkat perekonomian keluarga.

Setidaknya itulah yang dirasakan Sri Lestari. Dia merupakan satu di antara pekerja di pabrik rokok (PR) Kusuma Laksa Perkasa yang terletak di Dusun Gading, Desa Selopuro, Kecamatan Selopuro. “Alhamdulillah meski tidak banyak bisa menjadi penopang hidup bagi keluarga di rumah. Mudah-mudahan pabrik rokok tetap eksis dan bisa membawa manfaat bagi warga sekitar,” kata Sri Lestari kepada Koranmemo.com ditemui Jumat (22/11) lalu.

Dijelaskan oleh Sri, dirinya bergabung dengan PR Kusuma Laksa Perkasa sudah setahun lebih. Meski baru, dia sudah merasakan manfaatnya. Salah satunya yakni soal pendapatan. Di pabrik sistem pendapatannya adalah borongan. Untuk 1.000 batang rokok dihargai Rp 25 ribu. Padahal dalam sehari bisa memproduksi atau mengemas 1.500 hingga 2 ribu batang rokok.

 “Yang penting bisa jadi sandaran hidup. Makanya kami berharap pemerintah untuk terus memberikan pembinaan agar pabrik rokok tetap eksis. Terutama rokok seperti ini, ” kata wanita asal Desa Jambewangi, Kecamatan Selopuro ini.

Sementara itu, Jimat yang juga pengawas atau mandor PR Kusuma Laksa Perkasa mengatakan, di  tengah gempuran pabrik besar; PR Kusuma Laksa Perkasa hingga kini tetap bisa memproduksi. Bahkan masih bisa membeli pita cukai..

 “Dari pemerintah Kabupaten Blitar melalui dinas perindustrian dan perdagangan pernah ke sini. Ya sekaligus melihat proses produksi dan pembinaan,” katanya.

Pabrik juga senang bisa menjadi bagian dari warga sekitar. Yakno dengan memperkerjakan warga untuk produksi. Setidaknya bisa mengurangi pengangguran dan membantu program pemerintah. “Makanya kami juga terus inovasi dan menjaga racikan rokok, ” katanya.

Sementara itu, bukan hanya dinas perindustrian dan perdagangan yang atensi soal pabrik rokok, tetapi juga Dinas Lingkungan  Hdup Kabupaten Blitar. DLH Kabupaten Blitar atensi kaitannya dengan penanganan pekerja atau karyawan dari sisi lingkungan. Beberapa waktu lalu ada 29 pabrik yang ditangani dan dipantau.

 “Tetap kami monitoring. Untuk sidak digelar selama lima hari. Saat ini pabrik yang masih eksis hanya enam saja,” kata Kepala Bidang Pengawasan dan Analisis Dampak Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar, Ainurofiq.

Untuk diketahui, sejumlah dinas atau OPD di lingkup Pemkab Blitar menggulirkan sejumlah program yang dananya diambilkan dari Dana Bagi Hasil dan Hasil Cukai Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2019.

Sementara itu, sesuai dengan Undang Undang Cukai Nomor 39 Tahun 2007 Tentang larangan menjual rokok ilegal akan mendapatkan sanksi pidana dan administrasi. Sanksi diberikan baik kepada mereka yang menjual atau mengedarkan rokok polos tanpa pita cukai resmi. Selain itu, sanksi juga diberikan kepada mereka yang membeli atau mengkonsumsinya.

Cukai rokok dalam bentuk bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT) dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan. Seperti pembangunan jalan, irigasi. Ada juga pelatihan-pelatihan pengusaha rokok dan pembinaan petani tembakau. (advertorial dinas komunikasi dan informatika kabupaten blitar)

Reporter Abdul Aziz Wahyudi

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date