Omzet Justru Turun Menjelang Puncak Perayaan

Penjualan Aksesoris Natal

Natal adalah perayaan dan hari besar yang ditunggu-tunggu bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Begitu juga dengan umat Kristiani di Kediri. Mereka menyambut hari raya yang selalu diperingati dalam setiap tahunnya ini dengan perasaan gembira. Lonceng, pohon natal, topi sinterklas, lilin, lampu warna warni, dan masih banyak lagi merupakan aksesoris yang menjadi ciri kemeriahan perayaan natal. Bagi masyarakat yang belum memiliki aksesoris natal, mereka dapat langsung menyerbu toko-toko yang menyediakannya. Seperti halnya kios-kios yang berada di area Gereja Puhsarang, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Tetapi ada yang berbeda pada tahun ini. Walaupun puncak natal tanggal 25 Desember sudah dekat, Gereja Puhsarang masih terlihat sepi. Hanya terlihat persiapan dari anggota Kepolisian Kota Kediri yang membenahi pos pengamanan di depan kompleks lokasi ziarah umat Katolik yang mulai aktif pada Jumat (23/12). Selain itu juga terlihat beberapa pengurus gereja membersihkan lokasi yang akan dipakai ibadah dan perayaan natal.

Begitu pula dengan suasana di deretan kios penjual souvenir rohani, termasuk aksesoris natal di jalan menuju Goa Maria. Meski menjelang natal bertepatan dengan hari libur sekolah, suasana kios masih sepi. Hanya sedikit pembeli yang terlihat mengunjungi kios dan melihat berbagai souvenir yang dipajang. Misalnya, salib, patung-patung, dan pernak-pernik natal.

Tri Agustin, salah satu pemiliki kios mengatakan tiga tahun belakangan ini, omzet dagangannya banyak mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya . Dia menyebut, banyak pengunjung yang datang untuk beribadah dan berziarah, atau hanya sekedar berkunjung untuk menghabiskan waktu liburan. Tapi mereka hanya sekedar melihat – lihat dagangan dan tidak membelinya. “Kami juga tidak tahu mengapa penjualan mengalami penurunan. Padahal penjual aksesoris di Kediri yang paling lengkap hanya di area Gereja Puhsarang ini, di luar area ini juga ada yang menjual tapi tidak begitu lengkap,” ungkap wanita kelahiran Desa Puhsarang ini.

Di toko yang berukuran sekitar 7 meter x 5 meter itu, Tri Agustin menjual berbagai kebutuhan beribadah serta berbagai macam aksesoris mulai pukul 08.00 WIB sampai malam hari. Selama 17 tahun dia beserta suaminya menjual berbagai aksesoris tersebut. Aksesoris itu ada yang didatangkan dari luar kota tapi ada pula yang diproduksi sendiri, seperti kalung dari manik-manik atau bahan dasar kayu dan plastik. Terlihat juga berbagai ukuran lilin yang berwarna ungu maupun pink. Mereka menyebutnya lilin adven, yakni lilin untuk menyongsong natal atau lilin penantian Tuhan Yesus bagi umat Kristiani. Mereka memproduksi sendiri lilin-lilin di belakang kiosnya.

Sedangkan barang yang didatangkan dari luar kota, berupa salib dengan berbagai ukuran yang dibawa dari Jawa Tengah. Salib itu dijual dengan harga mulai dari Rp 35.000 sampai Rp 6,5 juta, tergantung bahan dan ukuran. “Dari Kota Kediri belum ada yang memproduksi sendiri kecuali yang dari pahatan kayu. Maka dari itu kita mengambil barang dari luar kota seperti Yogya, Jakarta, Surabaya, dan Solo,” kata Tri Agustin.

Pada masa liburan, para pedagang biasanya menambah stok dagangan. Ini lantaran mereka mendapat pesanan dari luar daerah, seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, Makassar, Pontianak. Nilai pesanan itu bisa menembus angka Rp 10 juta per kiriman. Sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk pembeli lokal. Penjualannya dirasa tidak stabil sejak tahun 2014. “Sejak tahun 2014 omzet kita menurun sekitar 30 persen. Itu jelas berpengaruh pada usaha saya yang menopang kebutuhan keluarga,” pungkasnya.(yudha kriswanto)

 

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date