[Nominasi 2 lomba menulis online] Jurus 3D Tangkal Uang Palsu

Share this :

Kediri, koran memo.com – Pernah menjadi korban pemalsuan uang? Kalau belum, anda harus waspada. Pemalsu uang kian canggih. Secara kasat mata, uang palsu sama persis dengan uang aslinya. Namun ada jurus jitu untuk mengenali uang palsu : Jurus 3D.

“Masyarakat harus memahami mana uang asli dan uang palsu. Dengan cara 3D, yakni ‘Dilihat’, ‘Diraba’, ‘Diterawang’’,” ujar Ahmad Fauzi Batubara, Asisten Manajer dalam Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, ketika mengisi workshop Menulis di Media Online, dalam rangka HUT ke-5 Koran Memo dan HUT ke-3 koranmemo.com, Kamis (22/8) di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kediri.

Ahmad Fauzi membeberkan tentang D yang pertama, yakni ‘Dilihat’. Jika dilihat dari segi warnanya, menurut dia, uang asli warnanya terlihat lebih terang dan jelas. Desain uang asli terdapat benang pengaman yang ditanam dan tampak seperti suatu garis yang melintang. Pada pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000, misalnya.

“Apabila di lihat dari sudut pandang yang berbeda, benang pengaman dapat berubah warna,” katanya.

Menurut Fauzi, pada uang Rp 100.000, Rp 50.000, dan Rp 20.000 terdapat cetak tinta khusus berupa logo Bank Indonesia yang jika digerakkan ke kanan-kiri secara perlahan maka akan berubah warna. “Ada pula gambar tersembunyi (latent image) yang terletak pada tulisan BI dalam bingkai persegi panjang berbentuk ornamen tertentu,” ujarnya.

Kemudian 3D kedua adalah teknik ‘Diraba’. Fauzi menjelaskan, jika diraba, bagian angka nominal dan gambar utama yang akan terasa kasar.

“Untuk pemilik uang tuna netra terdapat blind code, yakni perubahan desain pada bentuk kode tuna netra berupa efek rabaan (tactile effect). Hal ini bertujuan untuk membantu membedakan antar pecahan agar lebih mudah,” katanya.

Selanjutnya untuk 3D yang ketiga yakni teknik ‘Diterawang’ dengan cara mengetahui gambar pada uang saling isi (rectoverso). Pada uang rupiah asli, Ahmad Fauzi mengatakan, logo BI akan terlihat utuh apabila diterawangkan ke arah cahaya.

“Atau bisa juga menerawang pada tanda air (watermark), pada uang kertas rupiah terdapat tanda air berupa gambar tertentu yang akan terlihat bila diterawangkan ke arah cahaya. Umumnya berupa gambar pahlawan,” tuturnya.

Tingkatkan Minat Jurnalis Muda

Workshop ” Menulis di Media Online” dalam rangka HUT ke-5 Koran Memo ke – 5 dan HUT ke-3 koranmemo.com digelar selama dua hari di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Rabu- Kamis, 21-22 Agustus 2019 yang diikuti pelajar se-Kota dan Kabupaten Kediri. Dengan adanya kegiatan menulis seperti ini, diharapkan calon – calon jurnalis yang hadir lebih meningkatkan kembali minat mereka.

Dalam kegiatan ini, Achmad Saichu selaku pimpinan redaksi Koranmemo.com menyampaikan materi seputar penulisan berita yang baik dengan kaidah 5W + 1H. Tentang bagaimana peletakan yang baik dalan rincian what, when, where, who, why, dan how. Dan itu harus diikut sertakan dalam pembuatan berita.

“5W + 1H itu cuma perlu dituliskan di teras berita saja, tidak perlu disebarkan di tubuh berita ataupun sebagai informasi tambahan, yang penting sudah mencakup kegiatan tersebut,” kata Saichu.

Tak sekadar teori, para peserta workshop juga langsung praktek apa yang didapat. Setelah mendapatkan teori, mereka diminta wawancara narasumber. Sehingga, ilmu yang mereka dapatkan bisa langsung dipraktekkan.

“Selain memberikan ketrampilan menulis, juga bertujuan agar pelajar – pelajar jurnalis lebih berkompeten dalam bersikap terhadap rupiah dan pandai dalam memilah – milah rupiah yang layak digunakan,” kata Della Cahaya Praditasari, seksi humas panitia pelaksana.

Menurut Della, panitia sengaja menjadikan siswa/i SMA sederajat menjadi sasaran peserta. “Agar kita tidak kehilangan jurnalis – jurnalis muda yang memiliki banyak wawasan, bukan hanya menjadi jurnalis yang asal nulis, bukan yang sekedar ” klik ” saja untuk mendapatkan adsens dari media sosial, apalagi sampai menyebar hoax hanya demi rupiah,” katanya.

Antusias yang diberikan oleh pelajar yang hadir sangat memberikan kepuasan oleh sebagian panitia yang terdapat dalam koranmemo. “Diharapkan, untuk masa yang akan datang, penerus generasi jurnalistik selanjutnya lebih semangat lagi,” Della.

Workshop ini juga memberikan manfaat bagi peserta. Mereka memperoleh banyak wawasan. “Semoga setelah acara ini berlangsung saya dapat lebih baik lagi menulis berita dan lebih mudah lagi membuat karya – karya yang lebih mendalami lagi tentang kejurnalistikan,” ujar salah satu peserta dari SMK YP 17 Pare, Vita Zulianti.

Reporter : Defina Erjuniar – SMKN 3 Kediri

Editor: Della Cahaya Praditasari