Musim ‘Panen’, Pemilik Usaha Rias Gigit Jari

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Memasuki musim hajatan serta peringatan hari kemerdekaan tahun ini, para pemilik usaha rias terpaksa harus gigit jari. Pasalnya, di saat musim ‘panen’ seperti ini mereka justru sepi job lantaran adanya pembatasan kegiatan di masa pandemi.

Isma, pemilik Salon Rose Kecamatan Kertosono, mengeluh usaha rias miliknya tidak ada pemasukan sama sekali di bulan ini. Padahal, biasanya ketika Agustus seperti ini Isma kebanjiran order rias sampai menolak job karena overload. “Tahun ini tidak ada job atau pemasukan sama sekali,” keluhnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Isma biasanya menerima pekerjaan mulai  instansi, sekolah, hingga daerah pedesaan yang mengikuti acara karnaval. Ironisnya, di tahun ini tidak ada satupun yang datang kepadanya untuk menggunakan jasa riasnya. “Kalau kondisi normal, biasanya sebulan sebelumnya para pelanggan sudah melakukan booking,” ujarnya.

Isma mengeluh omzet usaha riasnya di bulan Agustus tahun ini anjlok secara drastis. Padahal sebelumnya di bulan seperti ini ia bisa meraup omzet hingga ratusan juta rupiah.

“Kalau kondisi lagi begini sudah ada yang pakai jasa salon saja sudah bersyukur. Ini karyawan saja saya kurangi, padahal tahun lalu biasanya malah tambah sampai tiga orang,” katanya.

Hal senada disampaikan Insiyah (47), owner salon Indah, Kecamatan Kertosono, yang mengaku juga merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Menurutnya, dia bukan satu-satunya pengusaha rias yang mengalami musibah ini.

“Sepertinya semua pemilik usaha rias terdampak, bukan saya saja yang mengalami musibah ini,” tukasnya.

Bagaimana tidak, kata Insiyah, para pengusaha salon dan rias hampir semua memiliki hutang. Sebab, peralatan rias dan seluruh perabotan salon harganya begitu mahal. Untuk modal tidak cukup kalau tidak ada bantuan dari hasil pinjaman. Sekalipun nanti dapat pelanggan, otomatis uang akan diputar untuk bayar hutang.

“Tahun ini sebenarnya bagus untuk panen uang. Diperkirakan pada bulan Agustus tahun ini, akan kebanjiran jasa rias. Bulan Agustus kali ini masuk ulan besar atau lebaran haji, seperti adat jawa dimana bulan ini adalah bulan yang baik untuk melangsungkan pesta pernikahan, sekaligus dibarengi bulan Agustus yang tiap tahunnya diperingati dengan acara karnaval, parade dan event-event lainnya, otomatis akan membutuhkan jasa rias,” paparnya.

Para pengusaha rias berharap bencana pandemi ini segera berlalu sehingga mereka tidak sampai gulung tikar. Meskipun pemerintah sudah membuat simulasi acara resepsi pernikahan di masa pandemi, masih banyak masyarakat yang takut untuk melaksanakan acara dan masih bingung untuk mengurus izin penyelenggaraan kegiatan.

Reporter Andik Sukaca/Inna Dewi Fatimah

Editor Achmad Saichu