Mulai Program e-Warong Hingga e-Parkir

Share this :

Dari Pelatihan Wartawan BI di Jakarta (4)

GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai) merupakan salah satu program yang paling keras digenjot oleh Bank Indonesia. Ada banyak alasannya, dan ada banyak pula langkah-langkah yang ditempuh oleh bank sentral ini. Namun, apapun alasan dan langkahnya, muara dari program GNNT ini satu, yakni mengurangi risiko akibat beredarnya uang rupiah yang terlalu besar di masyarakat.

          Apa alasan Bank Indonesia mendorong GNNT di Indonesia? Ricky Satria, Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia menjelaskan, transaksi dengan non tunai dinilai lebih efisien dan efektif. Risiko kehilangan uang karena terjatuh, pencopetan atau penjambretan juga akan berkurang.

Selain itu, dengan adanya pelacakan history transaksi yang lebih mudah, sistem pembayaran pemerintah daerah kepada masyarakat, seperti penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat kurang mampu, juga akan lebih mudah diawasi. “Ini yang paling penting, dan saya yakin juga menjadi harapan masyarakat Indonesia. GNNT bisa menghentikan praktik korupsi. Jika masyarakat menerima bantuan tersebut langsung dari pusat ke rekening masing-masing, maka tidak akan terjadi uang hilang di jalan dan tidak tepat sasaran,” tutur Ricky.

Hal itu telah mulai diterapkan oleh Kementerian Sosial, yakni melalui program e-Warong (warung gotong royong) yang baru mulai di-launching di seluruh Indonesia sekitar dua bulan yang lalu. Karena masih berjalan dua bulan, Ricky masih belum bisa mengatakan bagaimana efek dari adanya program tersebut. Untuk pemberian bantuan di gelombang pertama memang berjalan lancar dan sejauh ini masih tepat sasaran. Namun untuk jangka panjangnya, Ricky masih belum berani memastikan. “Terlalu dini jika dievaluasi sekarang,” ujarnya.

Selain program e-Warong ini, ada program lain yang menarik perhatian saya yakni program e-Parkir. Penjelasannya, program e-Parkir ini menggunakan sistem prabayar. Bagi warga yang menggunakan sistem ini, mereka akan diberi kartu yang berisi sejumlah saldo dan bisa digunakan di tempat-tempat tertentu yang juga menggunakan sistem e-Parkir ini.

Apa manfaat dari adanya program e-Parkir ini? Ricky menuturkan, e-Parkir ini bisa menaikkan PAD (Pendapatan Anggaran Daerah). Di beberapa kota besar selain Jakarta, seperti Surabaya, dan Malang, program ini telah mulai berjalan. Dan dari laporan-laporan yang diterima oleh Ricky, ternyata program tersebut memang terbukti mampu menggenjot PAD dari sektor parkir hingga lebih dari 50 persen.

“Dengan sistem e-Parkir, uang dari jasa parkir akan langsung masuk ke pemerintah daerah, bagi hasil dengan pihak ketiga. Angka yang didapatkan dari sektor tersebut jauh lebih banyak dibanding dengan ketika masih menggunakan sistem manual,” kata Ricky.

Terdengar indah bagi pemerintah, namun yang patut untuk dipertanyakan, bagaimana nasib para juru parkir, entah itu parkir liar maupun yang ada di tempat-tempat umum seperti mall dan perkantoran? Hal tersebut dikhawatirkan justru akan menjadi permasalahan, karena dinilai mematikan mata pencaharian mereka. “Tentu saja tidak. Para jukir tidak akan kehilangan pekerjaannya. Mereka tetap dipekerjakan, namun sebagai pengawas dari sistem parkir tersebut. Bedanya, gaji mereka tak lagi dari seberapa banyak orang yang parkir di daerah tersebut, namun menurut jam kerja,” jelasnya.

Karena melihat potensi yang bagus dari e-Parkir, Ricky berharap daerah-daerah lain akan segera menyusul Jakarta untuk menjalankan program ini. “Di Jawa Timur, Surabaya dan Malang sudah mulai menyusun program ini. Bahkan di Surabaya sudah ada beberapa titik yang menjadi pilot project,” ujar Ricky.

Kapan Kota Kediri? (ela/bersambung)