MPLS Bukan Ajang Perpeloncoan

Share this :

Kediri, koranmemo.com — Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2019/2020, sekolah wajib melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan ini juga sebagai penggantinya Masa Orientasi Siswa (MOS) yang syarat akan perpeloncoan (bullying), dan kerap dilakukan oleh siswa senior. Dengan adanya MPLS, diharapkan tidak lagi ada perpeloncoan yang dapat merendahkan siswa yang lain.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kediri, Sumiarso melalui Kasi SMK Sidik Purnomo mengatakan, selama proses MPLS pihak sekolah diharapkan bisa melaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) baik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) maupun dari Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur.Kegiatan MPLS juga berbeda dengan MOS, guru bertindak sebagai penyelenggara sekaligus pendamping, siswa yang bergabung dalam organisasi siswa intra sekolah (OSIS), bukan sebagai penyelenggara. “Jangan sampai ada praktik perpeloncoan atau bullying. Baik bentuk turur kata, tindakan, sampai pemberian hukuman,” jelasnya, Senin (15/7).

Untuk ketentuan MPLS sendiri, masih mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016. Proses MPLS dijadwalkan selama tiga hari yang dilakukan pada minggu pertama tahun ajaran baru. Serangkaian kegiatan MPLS, diharpakan siswa dapat saling mengenal dengan teman satu angkatan maupun kakak kelas.

Pada Permendikbud, kegiatan MPLS diantaranya semua siswa baru memperoleh pengarahan awal mengenai peraturan sekolah dan mendapat penjelasan agenda kegiatan selama di sekolah. Siswa juga dikenalkan kepada lingkungan sekolah, berkenalan dengan para guru, pengurus sekolah, dan mengetahui fasilitas yang ada di sekolah.

Tidak kalah penting, dalam kegiatan MPLS juga mengajak siswa baru melakukan kegiatan untuk mengarahkan siswa untuk lebih mengenal potensi dan kemampuan yang dimiliki. “Ini juga sebagai motivasi bagi siswa. Untuk pendidikan karakter, sekolah juga bisa bekerja sama dengan instansi lainnya, bisa mengenai kesehatan, pengertian bahaya narkoba, sampai penanggulangan bencana,” ujarnya.

Sidik menilai, dalam kegiatan MPLS peran guru sangat penting selain menjadi penyelenggara dan pendamping, guru juga dituntut menjadi pengawas dalam setiap kegiatan. Dengan demikian, proses pelaksanaan MPLS dapat berjalan dengan lancar. Jika siswa di jenjang yang lebih tinggi menjadi pendamping, tetap ada pengawasan dari guru.

Sidik berharap, pelaksanaan MPLS mulai tanggal 15 sampai 17 Juli, tidak ada praktik perpeloncoan. Peserta didik baru juga diimbau untuk melaksanakan arahan dari guru dengan semaksimal mungkin. “Terutama, para peserta didik baru harus bisa memahami peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah,” imbuhnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor : Achmad Saichu