Minta Dukungan Penanganan Kriminalitas di Laut

Share this :

Menteri Susi Diskusi dengan Gus Sholah

 

Jombang, koranmemo.com – Selain aksi makan ikan bareng ribuan santri dan pendistribusian bantuan ikan ke 11 kota/kabupaten di Jawa Timur, selama berada Pondok Pesantren Tebuireng Diwek Jombang, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti banyak melakukan diskusi dengan Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah tentang situasi terkini berkaitan dengan isu kemaritiman, Jumat (18/11).

Dalam perbincangan dengan Gus Sholah, Menteri Susi banyak bercerita tentang berbagai modus kriminalitas di laut (ocean crime). Mulai dari aksi pencurian ikan (illegal fishing), penyanderaan anak buah kapal, hingga lika-liku penegakan hukum yang telah dilakukan oleh kementerian yang dipimpinnya. “Sampai hari ini, sudah ada 256 kapal yang kami tangkap dan kami eksekusi,” ujar Menteri kelahiran Pangandaran Jawa Barat ini di Dalem Kasepuhan Tebuireng.

Kepada Gus Sholah, menteri yang selalu tampil nyentrik ini menyampaikan bahwa aksi illegal fishing adalah sebuah kejahatan yang terorganisasi.  “It’s not single act crime,” tegasnya.

Karena itu, Susi berharap tokoh nasional sekaliber Gus Sholah berkenan terus memberikan dukungan agar upaya menegakkan kedaulatan maritim bisa terus berlanjut. “Salah satunya, saya mohon Bapak (Gus Sholah) secara persuasif bisa memberikan pandangan agar Perpres 44/2016 jangan sampai direvisi. Nanti kalau direvisi, kita akan kembali ke zaman jahiliyah,” ujarnya.

Perpres (Peraturan Presiden) yang dimaksud Menteri Susi yakni mengatur tentang daftar negatif investasi (DNI). Dalam Perpres tersebut, usaha perikanan tangkap dengan menggunakan kapal penangkap ikan di wilayah perairan Indonesia dan laut lepas disyaratkan harus bersumber dari modal dalam negeri 100 persen. Selain itu, juga harus ada izin khusus dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai alokasi sumberdaya ikan dan titik koordinat daerah penangkapan ikan. “Kami ingin negara menggantungkan masa depannya di laut. Karena kita sudah tidak punya tambang. Sumber daya alam yang lain juga sudah diambil alih oleh perusahaan asing. Tapi, kita masih punya laut. Jangan sampai kita mengimpor ikan dan nelayan,” pungkas Susi. (ag)