Minat Warga Trenggalek Jadi Pekerja Migran Masih Tinggi

Trenggalek, Koranmemo.com – Minat warga Trenggalek untuk mengadu nasib di negeri orang sebagai pekerja migran masih tinggi. Kecenderungan cerita kesuksesan tetangga dan iming-iming gaji besar menjadi salah satu faktor banyaknya generasi muda yang memilih bekerja di luar daerah. Padahal anggapan tersebut tak sepenuhnya benar.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Trenggalek, Suparman menyebut, tahun 2019 jumlah warga Trenggalek yang mengadu nasib ke negeri orang mencapai 2001 orang. Kecenderungan memilih bekerja di luar negeri mengalami kenaikan berkaca pada data 4 tahunan. “(Jumlah) itu belum termasuk yang (TKI) ilegal. Kita tidak bisa memungkiri, pasti ada,” kata dia.

Tahun 2016 pihaknya mencatat sebanyak 1.363 warga Trenggalek berangkat sebagai pekerja migran. Kenaikannya sekitar 100 orang per tahun dan melonjak drastis dari tahun 2018 ke tahun 2019. Mereka tak sepenuhnya berangkat dari daerah. “Ada yang dari Trenggalek, ada yang dari luar daerah tapi warga Trenggalek juga,” imbuhnya.

Naiknya peminat Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selaras dengan bertambahnya jumlah negara tujuan. Hongkong dan Taiwan menjadi negara paling banyak jadi jujukan warga Trenggalek. Mayoritas mereka bekerja disektor informal diantaranya adalah Asisten Rumah Tangga (ART). “Untuk formal seperti di perusahaan dan lain sebagainya itu memang lebih sedikit ketimbang informal,” jelasnya.

Kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan di daerah bukan jadi satu-satunya alasan tingginya minat pekerja migran asal Trenggalek. Pasalnya mereka yang mengadu nasib ke luar negeri masuk kategori usia produktif. “Banyak faktor. Tapi disadari atau tidak, gaji yang didapatkan ketika menjadi TKI di Trenggalek belum ada,” ujarnya.

Jumlah pekerja migran asal Trenggalek tersebar merata. Namun terdapat beberapa kantong-kantong TKI diantaranya adalah Kecamatan Watulimo hingga Munjungan. Meskipun di Trenggalek belum ada survei tertulis tentang taraf kehidupan pasca merantau, namun tingkat perekonomian warga lebih sejahtera. “Indikatornya seperti rumah bagus, pendidikan anak lebih tinggi, dan lainnya,” jelasnya.

Dibalik cerita kesuksesan mayoritas pekerjaan migran, dilain sisi Suparman tak menampik terdapat beberapa TKI yang terbelit masalah. Diantaranya adalah dua korban diduga pembunuhan hingga seorang pelaku pembunuhan terhadap bayinya sendiri yang saat ini tengah memasuki proses persidangan. “Semoga itu yang terakhir,” pungkasnya.

Reporter: Angga Prasetya
Editor: Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date