Merasa Mampu, Peserta PKH Ini Pilih  Mengundurkan Diri

Share this :

Jombang, koranmemo.com – Penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di wilayah Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang, mendadak mengundurkan diri.

Pasalnya, mereka menilai bahwa keluarganya saat ini telah mandiri dengan menekuni usaha wiraswasta alat-alat pertukangan dan pertanian yang diproduksi di tempat tinggalnya, sehingga kini lebih mampu.

“Pengunduran diri ini, ya karena saya bersama suami sudah mampu menghidupi kakek. Dengan merintis usaha alat bangunan yang dikelola suami. Alhamdulillah sedikit demi sedikit, akhirnya dapat berkembang dan mencukupi kebutuhan keluarga di rumah,” kata Luluk Faridatul Umami (34) ketika ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (11/12) siang.

Diketahui, Luluk merupakan cucu dari almarhum neneknya bernama Aslikah yang mendapat bantuan PKH Lansia yang baru berjalan setahun. Selain itu, dirinya juga menjelaskan, bahwa kakeknya hanya menerima PKH lansia saja, dan untuk bantuan lainnya tidak ada.

Dengan kedatangan Kadinsos Kabupaten Jombang, Moch Saleh di rumahnya, langsung mengundurkan diri sebelum ditempel stiker di tembok depan rumahnya.

“Seiring berjalannya usaha suami saya memproduksi usaha kerajinan pacul dan catok semenjak belum menikah, keuntungannya bertambah. Bersyukur dari hasil yang diperoleh bisa sampai belasan juta rupiah per bulannya. Ya jadi lebih baik saya mundur saja karena merasa sudah mampu,” terang ibu 2 anak ini.

Sementara di lokasi berbeda di tempat tinggal, seorang ibu rumah tangga yang memiliki rumah nampak bangunan baru milik Minten (48), warga di Desa yang sama, juga telah tertempel stiker. Namun melihat kondisi kediaman bagus bukan semata-mata hasil jerih payahnya sendiri, tapi juga dibangun oleh saudaranya yang saat ini bekerja menjadi TKI diluar negeri.

“Untuk ekonomi keseharian, suami saya pekerjaannya serabutan buruh tani, kalau saya sendiri juga membantu bekerja menjahit dan setrika baju orang, cuci baju orang (laundry), tapi jarang sekali, kadang ada 2 kali, kadang juga tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, dulu dirinya membangun rumah patungan dengan adik-adiknya. Kalau untuk bantuan dulu pernah mendapat PKH, akan tetapi sudah mundurkan diri. Tapi sekarang dirinya hanya menerima bantuan pangan non tunai (BPNT).

“Kalau mendapat BPNT masih baru, sekitar satu tahun pada 2019 ini. Saya sebenarnya sih mau mundur dari bantuan ini, tapi ya gimana lagi, suami kadang bekerja, dan kadang tidak atau ngangur,” imbuhnya

Sementara itu, Kadinsos Kabupaten Jombang, Moch Saleh mengatakan, bahwa dalam evaluasi saat ini pada konteks Ibu Minten rumahnya bagus. Tapi ternyata di dalam ada seorang ibu dan bapak yang belum mempunyai penghasilan tetap.

“Bu Minten dulu pernah menjadi peserta PKH, dan sekarang tidak. Tapi beliau mengaku, masih memerlukan bansos pangannya. Karena keluarga yang membangun rumah ini, yang menjadi TKI, tidak memberi dan mensuport dana untuk kebutuhan ekonomi keluarganya,” jelasnya.

Lebih lanjut Saleh menyampaikan, ketika Bu Minten ditanya mau mundur atau tidak, akan berpikir ulang dan akan mempertimbangkan dahulu.

“Mungkin dalam sekian waktu nanti kalau akan mundur nanti akan kami beritahukan pada pendamping. Dan suatu saat beliau sudah tidak memerlukan lagi BPNT,” pungkasnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Editor Achmad Saichu