Menteri Luar Negeri Amerika Kunjungi Afghanistan

Share this :

Kabul, koranmemo.com – Perang yang berkepanjangan di Afghanistan tengah diusahakan untuk berakhir dalam waktu dekat, Pemerintah Afghanistan sepakat untuk berunding dengan pemberontak Taliban. Amerika yang menjadi pihak penghubung antara Afghanistan dengan Taliban, menunjukan keseriusannya setelah Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo mengunjungi Afghanistan pada hari Senin (23/3).

Melansir dari AFP, Pompeo dijadwalkan bertemu dengan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani bersamaan dengan rivalnya, Abdullah Abdullah. Keduanya adalah sosok yang berkompetisi pada pemilihan Presiden Afghanistan tahun lalu.

Kedatangan dari Pompeo sendiri terjadi sehari setelah perundingan pertama yang dilakukan oleh Afghanistan dan Taliban. Diskusi tersebut memperbincangkan skema kesepakatan dari pertukaran tahanan kedua belah pihak. Langkah pertukaran tahanan tersebut merupakan langkah penting yang dihasilkan dari negosiasi yang dilakukan oleh Amerika dengan militan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lama.

Utusan Amerika dalam negosiasi ini, Zalmay Khalilzad mengatakan, pertukaran tahanan perang adalah suatu yang penting dan harus segera diselesaikan. Periode yang singkat untuk menyelesaikan langkah ini guna menepati pakta yang telah disepakati oleh Amerika dengan Taliban.

Kesepakatan ini akan mengatur pelepasan 5.000 tentara Taliban dan 1.000 tentara Afghanistan yang ditahan oleh masing-masing pihak. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk dapat selesai sebelum perundingan damai yang akan dilakukan antara Afghanistan dan Taliban.

Terlepas dari kesepakatan yang sudah dibuat antara Amerika dan Taliban, pandemi corona juga merupakan suatu masalah tersendiri yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak. Zalmay juga mengatakan, pandemi ini sangat berpotensi mempengaruhi kontak diplomatik yang dilakukan.

Kasus corona di China memang sudah mulai membaik meski menyisakan ribuan pasien yang masih dirawat, dibandingkan dengan beberapa waktu lalu pada puncak kasus corona di China. Namun, kasus corona di Timur Tengah telah mengalami lonjakan kasus yang cukup tinggi, terutama di Iran.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya