Mentan : Masalah Warga Blitar Hanya Lahannya Terlalu Kering

Blitar, koranmemo.com – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman melihat lahan di Blitar terlalu kering sehingga kurang optimal untuk tanaman tebu. Dia berharap pemerintah setempat segera membuat embung – embung tadah air guna mensejahterakan petani tebu.

“Permasalahan di Blitar itu hanya air hujan yang turun di sini sedikit sehingga lahan terlalu kering. Padahal jika sedikit saja ditambah, air tebu bisa lebih optimal di banding sekarang,” ujar Amran Sulaiman saat mengunjungi Pabrik Gula Rejoso Manis Indo (RMI), Rabu (9/10).

Amran mengatakan, saat ini lahan satu hektare di Blitar hanya menghasilkan rata – rata 60 ton dari yang seharusnya bisa mencapai 100 ton per hektare. Dia meminta Pemkab Blitar membuat embung di lahan – lahan kering itu untuk menjadi tadah air.

“Strategi itu sudah berjalan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan beberapa tempat lainnya. Hasilnya bisa maksimal, rata – rata bisa sampai 100 ton per hektar,” jelas Amran.

Sementara itu, Direktur PG RMI Syukur Iswantara mengatakan, tahun ini sudah melakukan produksi pertama kali. Hasilnya, selama 20 hari uji coba pabrik PG RMI bisa menghasilkan 6.000 ton gula. “Uji coba pabrik kami lakukan mulai tanggal 10 sampai 30 September kemarin. Hasilnya sudah memenuhi batas minimal dari tebu yang ada yakni 4.000 tcd (ton cane day),” ujarnya yang menyambut kehadiran Mentan di kantornya.

Tahun depan, PG RMI menargetkan bisa menggiling tebu sebanyak 10.000 ton cane day (tcd) per hari. Syukur optimis kebutuhan tebu tahun depan bisa terpenuhi. Pasalnya, pihaknya sudah bekerja sama dengan Perhutani Blitar untuk menanam tebu seluas 12 ribu hektar.

“Pertengahan bulan Mei tahun depan kami akan lakukan giling. Jika 10.000 tcd, prediksi kami bisa menghasilkan 1,5 juta ton karena produktifitas tebu juga baik dikisaran 70 ton per hektarnya,” jelas Syukur.

Selain bekerja sama dengan Perhutani, Syukur meyakini, petani – petani tebu di Blitar akan menjual tebunya ke PG RMI. Pasalnya, selain jarak yang dekat, harga pembelian tebu di sana bersaing dengan perusahaan lainnya.

“Blitar itu potensi tebunya luar biasa. Apalagi dulu budaya disini adalah tanam tebu. Tapi setelah kemerdekaan banyak pabrik gula yang tutup sehingga banyak yang lari ke luar Blitar. Sekarang kami sudah ada di sini, sehingga kami optimis petani – petani tebu di sini akan menjual tebunya ke kami. Petani tebu di luar Blitar saja ada yang menjualnya ke kami,” tandas Syukur.

Reporter Zayyin multazam sukri
Editor Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date