Mengenal Wisata Edukasi Kampung Gerabah Blitar

Share this :

Blitar, koranmemo.com – Bagi anak zaman sekarang, gerabah mungkin sudah menjadi hal yang asing bagi mereka. Namun di sentra pembuatan gerabah Kabupaten Blitar, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga gerabah tetap lestari. Mereka membuat wisata edukasi Wisata Kampung Gerabah.

Jika anda berkunjung ke Blitar, Jawa Timur, sempatkan untuk mampir ke Dusun Precet Desa Plumpung Rejo, Kecamatan Kademangan. Di tempat ini anda akan bisa melihat aktivitas membuat beragam bentuk gerabah secara langsung.  Sekitar 200 keluarga bertahan memproduksi gerabah warisan dari nenek moyangnya. Di lokasi wisata ini, pengunjung uga bisa mencoba langsung membuat gerabah.

Pusat edukasi gerabah digagas oleh Muhammad Burhanudin sejak tahun 2014. Program ini awalnya untuk memperkenalkan warisan budaya leluhur ini, ternyata berkembang lebih pesat. Di sinilah sentra pembuatan gerabah turun-temurun dari para leluhurnya.

“Gerabah ini adalah warisan leluhur. Awalnya dulu tahun 1995 ayah saya membuat gerabah, dan pada tahun 2014 saya kembangkan menjadi kampung wisata,” ujar Burhan.

Pria berusia 30 tahun melihat peluang menjadikan desanya sebagai desa wisata karena di desanya banyak pengrajin gerabah. Setidaknya ada 200 keluarga yang menekuni bisnis tersebut. Burhanpun terus melakukan inovasi untuk mengembangkan usahanya.

Banyak kalangan sangat berminat belajar membuatnya. Tak hanya masyarakat lokal, namun sampai wisatawan mancanegara. Dalam sepekan, hampir tiap hari Burhan menerima rombongan pelajar dan wisatawan yang ingin belajar membuat gerabah.

Motif gerabah Blitar diambil dari kearifan lokal. Seperti candi, ikan koi dan bunga kenanga. Gerabah interior dan suvenir produk kampung ini banyak dipasarkan ke Bali, Jakarta dan Kalimantan.

“Saya bikin tiga paket. Paket pertama edukasi dan mewarnai suvenir. Paket kedua yaitu edukasi dan membuat gerabah dan paket ketiga mulai edukasi, membuat gerabah sampai finishing mewarnai,” pungkasnya. (*)

Reporter: Nuramid Hasjim

Editor: Della Cahaya