Menambang Tanpa Izin, Bos Watu Dakon Resort Divonis 10 Bulan Penjara

Share this :

Madiun, koranmemo.com – Terdakwa Agus Suyanto, pengusaha proyek Watu Dakon Resort (WDR) dijatuhi hukuman 10 bulan penjara dan denda Rp10 juta subsider lima bulan kurungan penjara.

Putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Madiun, lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum  (JPU) selama 1 tahun penjara.

Dalam sidang secara virtual, Ketua Majelis Hakim Bunga Meluni Hapsari menyatakan, bahwa terdakwa Agus Suyanto, terbukti bersalah melakukan penambangan di Watu Dakon Resort (WDR) di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan,Kabupaten Madiun, tanpa izin.

Terdakwa tidak mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pertambangan Rakyat (IPR) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Diketahui, dari hasil pengerukan 55 ribu meter persegi tersebut sebagian disumbangkan dan sebagian lagi dijual.

Hasil penjualan senilai Rp.312 juta hingga Rp.325 juta tersebut telah habis digunakan untuk biaya pembangunan yang diakui bakal dijadikan wahana pemancingan.

“Tidak memiliki izin pertambangan. Diperjualbelikan harus memiliki izin pertambangan operasi produksi sedangkan terdakwa belum mengantongi izin sama sekali,” kata Ketua Majelis Hakim Bunga Meluni Hapsari.

Perbuatan terdakwa terbukti melanggar Pasal 158 juncto Pasal 37, Pasal 40 Ayat 3, Pasal 48, Pasal 67 Ayat 1, Pasal 74 Ayat 1 atau Ayat 5 Undang-Undang RI Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).  Tindakan yang dilakukan terdakwa tersebut juga berpeluang merugikan keuangan negara khususnya Pemerintah Kabupaten Madiun.

“Terdakwa telah mengakui bersalah dan menyesal.
Menyatakan terdakwa Agus Suyanto terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana pertambangan tanpa izin menjatuhkan pidana terhadap terdakwa selama sepuluh bulan penjara dan denda sebesar 10 juta subsider lima bulan kurungan,” tandasnya.

Terdakwa  menerima putusan Majelis Hakim. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kabupaten Madiun, Bram Dhananjaya mengungkapkan masih akan pikir-pikir atas putusan tersebut.

Reporter: Juremi

Editor: Della Cahaya