Menag dan Mensos RI Hadiri Kongres II Pergunu

Mojokerto, koranmemo.com – Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Syaifuddin membuka Kongres Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) II di Ponpes Amanatul Umah di Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto, Kamis (27/10) malam. Menag mengapresiasi peran besar guru NU dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama anak bangsa.

“Guru NU menduduki posisi yang strategis dalam konteks pendidikan nasional. Karena membantu meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia makin baik, kualitas pendidikan keagamaan makin baik, dan kerukunan antar umat beragama makin baik,” kata Lukman dalam sambutannya.

Lukman menjelaskan, dari delapan parameter kualitas pendidikan yang ditetapkan pemerintah, pendidik dan tenaga kependidikan menempati posisi paling penting. Sementara parameter lainnya adalah standar isi materi, proses, kompetensi lulusan, sarpras, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian. “Karena di tangan pendidik seluruh kekurangan di tujuh parameter bisa ditutupi. Jika gurunya kualitas, kompetensi tinggi, maka kualitas pendidikan kita akan jauh lebih baik,” ujarnya.

Lukman mengakui sampai saat ini berbagai masalah masih dirasakan para guru NU. Salah satu yang paling krusial terkait kesejahteraan. Namun, di tengah keterbatasan itu, lanjut Lukman, kepedulian para guru NU terhadap pendidikan anak bangsa patut diapresiasi. Menurut dia, rasa cinta terhadap anak didik dan nasib anak bangsa ke depan yang membuat para guru tetap konsisten mengajar. “Kami terus berupaya mudah-mudahan tahun depan makin banyak guru yang tersertifikasi, tentu akan mendapatkan haknya sesuai regulasi,” cetusnya.

Lukman berharap kongres Pergunu II yang digelar sampai 29 Oktober ini menelurkan program-program untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru. “Apapun hasil kongres mudah-mudahan menghasilkan program yang bisa dikerjasamakan dengan Kementerian Agama,” tandasnya.

Sementara, Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa yang juga hadir dalam acara tersebut meminta para tenaga pendidik yang tergabung dalam Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) mempunyai peran sebagai juru bicara (jubir) untuk menanamkan ajaran ahlusunnah wal jamaah (aswaja) yang mengandung konsep toleransi dan moderasi atas keberagaman kepada anak didik. “Kalau mereka (guru NU) memahami itu (ajaran aswaja), ada konsep moderasi dan toleransi di dalamnya untuk Indonesia yang heterogen dan beragam. Itu yang akan membangun NKRI utuh lahir batin,” tutur Khofifah.

Oleh sebab itu, lanjut Khofifah, setiap guru NU apapun bidang studinya, harus memahami betul ajaran aswaja. Dia berharap mereka menjadi jubir yang tak sekadar menyampaikan ajaran kepada murid, namun juga memastikan anak didik paham dan melaksanakan konsep tersebut.”Harus dilakukan koreksi secara komprehensif karena para guru NU adalah juru bicara bagaimana mengejawantahkan aswaja. Setiap guru NU tak boleh tak tahu apa itu aswaja,” tandasnya.

Selain dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, pembukaan Kongres Pergunu II juga dihadiri ratusan pengurus persatuan guru NU tingkat daerah maupun pusat serta sejumlah tokoh penting. Diantaranya Ketum Pergunu Asep Syaifudin Halim, Dewan Pembina Pergunu Asad Said Ali dan Ketum PBNU Said Aqil Siradj. (ag)