Melejit Setelah Salah Teknis Membuat Motif

Umi Mariati, Pengrajin Batik Jumputan Galuh Kediri 

Kediri,Koran Memo Pepatah pengalaman merupakan guru utama sangat dirasakan Umi Mariati dalam memproduksi batik jumputan. Belajar dari kegagalan saat membuat motif, Umi terus memperbaiki diri. Kini usaha batik jumputan yang diberi nama Galuh Kediri ini sedang dipatenkan sebagai produk khas Kediri.

Batik jumputan
Batik jumputan

Suasana sebuah rumah di Perumahan Dermo, Kecamatan Kota Kediri terlihat berbeda. Dua orang perempuan terlihat sibuk menjajar kain dengan motif warna warni. Rumah tersebut tak lain adalah rumah Umi Mariati, seorang pengrajin batik jumputan di Kota Kediri.

Siang kemarin perempuan berusia 48 tahun itu sedang menyelesaikan pesanan dari sebuah instansi sekolah di Kota Kediri. Teras rumahnya dimanfaatkan untuk menjemur batik jumputan yang baru saja selesai dalam proses pewarnaan. Sambil menunggu kain berukuran 2 meter tersebut kering, Umi mengerjakan pekerjaan lainnya. “Ini sedang menyelesaikan pesanan sebanyak 100 kain untuk seragam. Ini baru selesai setengahnya,” tutur ibu dua putra ini.

Sudah hampir sepuluh tahun Umi menggeluti bisnis batik jumputan ini. Hal itu berawal saat Pemerintah Kota Kediri menggalakkan batik sebagai produk unggulan Kota Kediri. Umi mulai mencari referensi mengenai batik yang bisa menjadi ciri khas Kota Kediri.

Memiliki latar belakang pendidikan SMK, Umi teringat bagaimana membuat batik jumputan. Sebab tinggal di lingkungan perumahan menjadi kendala baginya apabila harus membuat batik tulis karena membutuhkan halaman yang cukup luas untuk ruang produksi.

Umi pun mencoba membuat batik jumputan dengan melakukan inovasi motif. Apabila selama ini motif jumputan dibuat dengan cara diikat, maka dia mencoba membuat dengan cara dijelujur. Proses pewarnaan pun juga dilakukan berbeda, yaitu dengan cara dicoret. “Jika dijumput biasa prosesnya lebih mudah namun hasilnya hanya ada dua warna saja. Jika dicoret seperti ini bisa menghasilkan warna gradasi,” terangnya.

Umi mencoba membuat beberapa motif batik jumputan. Percobaan yang dilakukannya tidak selalu berhasil. Beberapa kali dia mengalami kegagalan dan produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginannya. Puluhan lembar kain harus terbuang percuma.

Belajar dari kesalahan tersebut Umi mencari tahu apa penyebab pemotifan yang dilakukannya tidak sesuai harapan. Umi lantas mengikuti berbagai pelatihan dari Dinas Koperasi dan Dinas Perdagangan Kota Kediri. Diketahui jika proses pewarnaan gagal karena kesalahan teknis. “Sudah banyak yang gagal. Ini karena kurang rapatnya saat menjelujur kain dan mengikatnya,” kenangnya.

Umi mulai memasarkan batik produksinya melalui media online. Untuk meningkatkan eksitensinya, Umi juga mengikuti berbagai pameran baik yang diadakan di Kota Kediri maupun luar kota. Ini dilakukannya untuk mengenalkan kain batik jumputan Galuh Kediri.

Kini usaha batik milik Umi berkembang pesat. Ratusan pesanan setiap bulan terus menghampirinya. Umi mengajak warga sekitar sebagai mitra usahanya. Sebanyak 10 warga diajaknya untuk membantu menyesaikan ratusan pesanan yang datang. “Saya mengajak warga sekitar untuk membantu mengikat kain. Untuk pewarnaan masih saya lakukan sendiri,” ungkapnya. (nuramid hasjim)

 

Follow Untuk Berita Up to Date