Mbangun Sudhung dan Adat Ngitung Batih Tampil di FKKS

Trenggalek, koranmemo.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek mengikuti Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) di Lapangan Tumpang Kabupaten Malang, 6-7 September. Dalam ajang diskusi sekaligus media untuk mempromosikan wisata di pesisir selatan Jawa Timur, Kabupaten Trenggalek membawa tarian Mbangun Sudhung hingga Adat Ngitung Batih.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek Joko Purwito menyebut, Mbangun Sudhung dan Adat Ngitung Batih dipilih bukan tanpa alasan. Mbangun Sudhung dipilih untuk mengikuti kategori gelar seni budaya, sementara Adat Ngitung Batih untuk mewakili kategori upacara adat.

“(Kegiatan itu adalah) ajang diskusi dan pertunjukan akbar yang dikemas melalui gelar seni budaya, upacara adat, sarasehan dan pameran meliputi kerajinan seni dan kuliner,” jelasnya sembari menjelaskan dekorasi stand Trenggalek dalam pameran tersebut. Trenggalek juga menampilkan pelaku kreatif kesenian wayang hingga jajanan khas.

FKKS ke 15 itu diikuti delapan daerah di Jawa Timur yang terletak di pesisir selatan jawa. Meliputi Kabupaten Pacitan, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Masing-masing daerah membawa sajian khas baik seni dan budaya serta adat daerah. “Untuk Trenggalek Mbangun Sudhung, kalau untuk adatnya Ngitung Batih,” kata dia.

Berdasarkan penafsiran sejarah Mbangun Sudhung berarti membangun rumah babi hutan. Konon diceritakan, babi hutan selalu berusaha menjaga rumahnya dari naga perusak yang berusaha menghancurkannya. Dengan dibantu prajurit berkuda mereka melawan naga perusak dengan sekuat tenaga dan hasilnya mereka berhasil mengalahkan naga perusak dan menyelamatkan rumahnya.

“Filosofisnya bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. (Misal) prajurit berkuda putih itu adalah Turonggo Yakso, melambangkan kebaikan. Jadi tarian ini adalah sebuah cerita daerah, cerita yang dikait-kaitkan. Begitu juga dengan Adat Ngitung Batih, kenapa kita pilih itu? Karena tengah proses masuk Cagar Budaya Tak Benda, selain Larung Sembonyo dan Lodho yang sudah masuk,” kata dia.

Dengan mengikuti FKKS ini, ia berharap potensi wisata di Trenggalek semakin dikenal sesuai dengan Jargon Meroket. Dampak jangka panjangnya bisa menumbuhkan potensi daerah wisata budaya khususnya di selatan jawa. “Harapannya meningkatkan kreativitas SDM peran masyarakat khususnya pelaku seni, kreator dan generasi muda, untuk meningkatkan potensi wisata di wilayah selatan Jatim,” ujarnya.

Untuk diketahui, FKKS ke 15 ini mengambil tema Dewi Cemara yang artinya Desa Wisata Cerdas Maju dan Sejahtera. Selain delapan kabupaten di pesisir selatan Jawa, FKKS juga diikuti peserta kehormatan dari Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur. “Kalau untuk pelaksanaannya bergantian, dulu tahun 2017 Trenggalek jadi tuan rumah,” pungkasnya. (adv)

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date