Masuk ke Pasar Hewan Beji Tulungagung, Pedagang Luar Kota Jalani Rapid Test

Share this :

Tulungagung, koranmemo.com – Para pedagang hewan kurban dari luar daerah menjalani rapid test ketika masuk Pasar Hewan Beji Tulungagung, Kamis (30/7). Skrining awal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran pandemi Covid-19. Pasalnya, menjelang pelaksanaan Idul Adha, Jumat (31/7), aktivitas jual beli di pasar hewan terbesar di Tulungagung itu meningkat drastis.

Peningkatan aktivitas jual beli ini melebihi rata-rata intensitas para pedagang di hari normal. Umumnya, rata-rata, kunjungan di pasar yang terselenggara tiap lima hari berkisar 600 pedagang. “Tapi hari ini tercatat hampir 850 pedagang lebih, karena hari akhir (sebelum pelaksanaan kurban),” kata Kepala UPT Pasar Disperindag Tulungagung, Zaenur Manshur.

Tingginya aktivitas jual beli di pasar itu tak hanya di penuhi pedagang lokal. Ia menyebut banyak pedagang luar daerah yang melakukan aktivitas jual beli di lokasi tersebut. Misalnya, seperti dari Kota Solo, Sragen, Magetan, Wonogiri, Surabaya, Gresik dan sejumlah daerah lainnya. “Untuk mengantisipasi itu, setiap pedagang yang masuk ke sini kami rapid test. Kami prioritaskan kepada pedagang luar daerah,” kata Zaenu.

Dia menilai para pedagang khususnya dari luar daerah sadar diri untuk melakukannya tes cepat tersebut. Bahkan, kata Zaenu, beberapa diantaranya tanpa disuruh langsung mengikuti pemeriksaan di sebelah pintu masuk yang sudah disediakan oleh pemerintah setempat. “Pedagang kondusif, jadi tak ada kesulitan. Selain pedagang yang di rapid test, juga ada pengunjung misal manula atau yang flu, tapi ada skala prioritas,” pungkasnya.

Koordinator Tracing dari Dinas Kesehatan Tulungagung, Satrio Wibowo menyebut, nantinya, pihaknya bakal menindaklanjuti jika ditemukan hasil tes reaktif. Pihaknya sudah menyediakan ruang khusus di lokasi untuk tes usap tenggorokan atau swab test. “Kalau positif Covid-19, jika berasal dari wilayah Tulungagung kami isolasi ke Rusunawa Tulungagung. Kalau luar daerah, kami koordinasikan dengan dinas kesehatan daerah asal,” kata dia.

Tes tersebut dilakukan secara acak. Sedikitnya, ada sekitar 300 alat rapid tes yang disediakan oleh pemerintah setempat. Selain di pasar hewan, skrining dengan melakukan rapid tes juga dilakukan di sejumlah tempat lainnya. Misalnya di ruang lingkup khusus, seperti pondok pesantren, lembaga pemasyarakatan, panti sosial hingga tempat umum. “Jadi ini sebagai upaya pencegahan dan antisipasi dini,” pungkasnya.

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Della Cahaya