Massa Pandemi Covid-19, Seniman Blitar Gelar Jaranan Virtual

Share this :

Blitar, koranmemo.com – Para pegiat seniman tetap mencoba untuk eksis. Di tengah kepungan pandemi Covid-19, para pemain jaranan mencoba untuk unjuk gigi sebagai tanda bahwasanya mereka tetap ada. Atas dasar itulah, dinas yang menaungi pun ikut tergerak. Meski tanpa penonton, mengizinkan para seniman untuk berekspresi. Dinas nantinya bakal menyiarkannya setelah sebelumnya merekam aksinya.

“Kami berusaha agar seni tetap ada meski saat ini masih pandemi. Caranya dengan kami rekam dan ditayangkan di medsos. Mudah-mudah para seniman tetap bisa mengekspresikan kemampuannya di bidang seni,” kata Kepala Dinas Pariwasata dan Kebudayaan Kota Blitar, Tri Iman Prasetyono ditemui usai pengambilan video kesenian jaranan di Gedung Kesenian Kota Blitar pada, Selasa (6/10) malam.

Menurut Tri, aksi itu adalah tahap terakhir dari proses berkesenian di kota Blitar pada musim pandemi. Ada sejumlah tahapan pementasan secara virtual.

Tri Iman menguraikan, pihaknya membuka tiga tahap berkesenian di masa pandemi Covid-19 saat ini. Tahap pertama, membuka sanggar untuk latihan, semua sanggar seni dari tari hingga lukis. Tahap kedua untuk yang kelompok musik, wayang dan karawitan secara virtual. Sedangkan tahap ketiga adalah pementasan jaranan secara virtual.

Baca Juga: Jumlah DPS Kota Blitar Ada 114.747 Orang

“Tahap pertama, pada Juni dilanjut pada kedua Agustus dan terakhir Oktober ini. Kami memberikan kesempatan kepada 35 grup untuk beraksi,” katanya.

Karena tidak diizinkan manggung dan mengundang massa, menurut Tri Iman, pihaknya bakal menampilkan di saluran khusus Disparbud. “Bukan hanya jaranan tetapi kami juga memberikan kesempatan kepada pelaku seniman wayang hingga karawitan. Kalau untuk pemain dibatasi,” katanya.

Baca Juga: Ratusan Massa Geruduk Kantor DPRD Kota Blitar Tolak UU Cipta Kerja

Pascaada keputusan dinas mengizinkan pentas tetapi dalam kondisi terbatas, para seniman menyambut baik. Setidaknya bisa memerankan aksinya. Pasalnya para pemain khawatir jika terlalu lama tak main, lupa dan kurang menjiwai. “Iya saya tanya pemain-pemain ini sudah lama merindukan pertunjukan, baru sekarang diperbolehkan meskipun jumlah pemain dibatasi dan tanpa penonton,” urainya.

Reporter Abdul Aziz Wahyudi
Editor Achmad Saichu