Masjid Ki Ageng Basyariyah Situs Sejarah Kabupaten Madiun

Madiun, koranmemo.com – Madiun memiliki cukup banyak situs bersejarah. Salah satunya berada di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Sejak tahun 1742, di Desa Sewulan terdapat situs tua berupa Masjid dan Makam yang dinamakan Kyai Ageng Basyariah. Nama tersebut diambil dari tokoh pembabat Desa Sewulan, Kyai Ageng Basyariah.

Situs Sewulan tersebut hingga kini masih terjaga kondisinya, posisi makam yang berdampingan dengan masjid memiliki desain seperti Masjid Demak tersebut dijaga dan dipelihara oleh Abdul Rohman bin Kyai Muhammad Komarudin.

Disampaikan olen Abdul, di depan masjid terdapat dua pohon besar, yaitu pohon sawo tanjung dan mentega. Sebelumnya terdapat satu pohon lagi yaitu sawi kecik yang sudah dibabat. Pohon – pohon itu melengkapi simbol filosofi dari para pengunjung masjid. Mereka masuk dari gapura yang dalam bahasa Arab erat kaitannya dengan Ghofuro atau ampunan dari yang Maha Kuasa.

Kemudian, melewati pohon kecik yang diartikan kabecikan atau kebaikan. Kemdian ada pohon tanjung yang erat kaitannya dengan dijunjung setelah tahu kebaikan. “Terakhir, pohon mentega yang harum yang bermakna orang – orang baik tersebut harum namanya,” katanya.

Terdapat juga kolam yang memiliki makna bahwa siapa saja yang hendak masuk ke masjid harus suci. Air kolam dulunya berasal dari sungai yang airnya masih bersih, tapi sekarang air tersebut diambil dari sumur.

“Kolamnya cukup dalam untuk yang bagian samping kanan dan kiri tempat wuduh yagberada di tengah dan lurus dengan pintu masik,” katanya.

Pada bagian depan masjid, terdapat dampar (meja) lebar terbuat dari jati, dengan cat warna biru telur bebek yang hampir pudar. Tingginya hanya sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Lebarnya sekitar 3 meter dan panjangnya sekitar 1,5 meter. Dampar tersebut digunakan untuk masyarakat yang ingin tadarusan disaat bulan puasa seperti sekarang. Juga pada hari-hari biasa digunakan anak-anak TPA untuk membaca Alquran. “Usia dampar ini sama seperti usia masjid ini,” tuturnya.

Selain itu terdapat juga ukiran indah khas keraton yang mempercantik tampilan pintu utama masjid. Tangga bambu yang mencapai atas masjid yang masih terdapat ruang dan memiliki penutup yang bisa dibuka untuk menuju luar atap. Hampir sekeliling masjid, terdapat dua buah jendela yang cukup besar. Jika jendela dibuka terlihat jelas pemandangan berupa deretan nisan yang berada di makam.

Di dalam masjid, terdapat empat tiang yang menyangga bagian dalam masjid yang memiliki ukiran mirip dengan yang berada di pintu. Di bilik imam terdapat mimbar yang bentuknya lebih mirip dengan mimbar jaman dahulu. Masih terjaga keaslian mimbar tersebut, dengan tampilan dan juga cara menggunakannya. “Yang berbicara di atas mimbar pun harus bersila, tidak berdiri,” ucapnya.

Bahkan terdapat lubang peluru yang menurut keterangan dari Abdul ditimbulkan karena adanya insiden jaman Belanda yang menembak seorang ulama yang sedang menunaikan sholat dhuha. Penembakana dilakukan dari luar saat pintu masjid saat pintu dalam keadaan tertutup namun peluru masih bisa menembusnya.

Selebihnya, untuk perawatan Abdul menyerahkannya ke takmir, sementara untuk menemai para pengunjung masjid yang ingin mengetahui sejarahnya, dia dengan senang hati menemani dan memberikan penjelasan. Namun, itu hanya ketika kondisi memungkin kan. Pasalnya, kalau sudah mendekati akhir puasa, banyak sekali kegiatan di Masjid.
“Ada sholat lailatul qadr di malam-malam ganjil dan siangnya juga pasti ramai peziarah makam,” pungkasnya.

Reporter Juremi
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date