Mantan Napiter Dukung Pemerintah Perangi Terorisme

Madiun, Koranmemo.com – Hampir empat tahun mendekam di penjara menjadi titik balik bagi Khoirul Ihkwan untuk menyadari kesalahannya terlibat aksi terorisme. Khoirul memutuskan keluar dari jaringan kelompok teroris karena sadar tindakannya itu menyebabkan sesama umat menderita.

“Penjara menjadi tempat saya untuk itikaf. Saat ini saya ingin mengembalikan kepercayaan keluarga dan masyarakat bahwa saya telah kembali ke dari ketersesatan,” ujar Khoirul mantan terpidana teroris (napiter) didampingi  Betty istrinya, saat wawancara esklusif dengan wartawan Koranmemo.com, Kamis (10/08/2017).

Sejak 2009, pria asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun itu bergabung dengan kelompok yang menyebarkan paham radikalisme. Bapak tiga anak itu ditangkap  Densus 88 Anti Teror Mabes Polri karena terlibat rencana peledakan Kedubes Myanmar. Densus menangkap Khoirul saat bekerja di Percetakan Andescre, Bekasi Timur, pada 20 Agustus 2013 silam. Dia ditangkap bersama rekan teroris lainnya Andri Wahono (23), Ahmad Irfan (24) dan Syamsuri (38).

Selama di Lapas Lowokwaru Malang maupun di Porong Sidoarjo, Khoirul mengungkapkan dirinya menolak dibaiat oleh  sesama napiter yang masih mendukung ISIS maupun Alqaidah. Penolakan itu sempat membuat teman-teman seperjuangannya kecewa. Namun, Khorul bergeming.

‘’Saat masuk Lapas, saya sempat ditodong untuk dibaiat. Namun saya katakan, saya punya prinsip sendiri, tidak mau ikut-ikutan. Terserah teman-teman mau menerima saya atau mengkafirkan saya dan tetap memusuhi saya ya monggo. Alhamdulillah mereka bisa menerima. Tapi saya merasa disisihkan, karena saya bukan bagian dari mereka,’’ paparnya.

Seiring dengan usahanya memperdalam ilmu agama serta pembinaan diberikan pihak lapas dan pemerintah, Khoirul  sadar bahwa apa yang pernah dilakukannya merupakan suatu kesalahan. Bahkan, dia mengaku siap untuk dilibatkan memerangi penyebaran paham radikalisme dan intoleran yang kini mengakar di Indonesia. “Jika dibutuhkan oleh negara, saya selalu siap,” tegasnya.

Berdasarkan pengalamannya bergabung dengan kelompok Taliban Melayu, Khoirul berpendapat ada sejumlah faktor yang memicu munculnya radikalisme. Selain faktor ekonomi, pengaruh ideologi yang paling utama.  “Karena itu, untuk penanganan, pemerintah harus mengetahui prioritas pengaruh apa bersangkutan masuk dalam jaringan teroris,’’ jelasnya.

Dia juga menilai ketidaktegasan pemerintah juga menjadi salah satu penyebab menggeliatnya aksi-aksi terorisme dan intoleran. Dia pun sangat berharap, pemerintah mau belajar dari negara Aljazair, Mesir dan bahkan Malaysia dalam menangani kelompok intoleran. ‘’Pandangan saya, pemerintah masih terlalu toleran. Mungkin khawatir dituding melanggar HAM. Namun saya berharap pemerintah terus perangi radikalisme dan intoleransi dan percayalah ada balasan kelak nanti,” tandas Khoirul.

Saat tiba di kampung halamannya sehari setelah bebas bersyarat pada 8 Agustus 2017 lalu, Khoirul langsung disambut hangat anak isteri, saudara dan kerabatnya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bercengkeraman dengan istri dan anaknya dan silaturahim dengan masyarakat sekitar. Dia juga akan berupaya membangun ekonomi keluarga dengan bekerja apa adanya. ‘’Kalau ada program kursus dari pemerintah, saya ingin buka usaha servis handphone,” tambahnya.

Reporter: Hendri Wahyu Wijaya

Editor: Achmad Saichu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.