Manfaatkan “Kemalasan” Orang-Orang

Pemilik Pelayanan Ojek Online Kediri

Memanfaatkan ‘kemalasan’ orang-orang untuk antre membeli makanan dan tiket nonton film, Astiti Ayu Anggraini mendirikan satu pelayanan transportasi serupa GoJek, tapi khusus untuk wilayah Kediri. Ide ini memang bukan hal yang baru. Namun kelebihannya, di wilayah Kediri, dia masih satu-satunya. Karena itu, Anggi, sapaan akrab perempuan berusia 19 tahun ini yakin usahanya akan berkembang pesat hanya dalam hitungan bulan.

Anggi tak mempungkiri, ide pendirian Ojek Zone ini adalah dari adanya GoJek. Dia sendiri mengaku, dia adalah salah satu orang yang paling sering memanfaatkan layanan tersebut, terutama ketika musim hujan lalu. “Kalau musim hujan malas kemana-mana. Pinginnya di rumah, tapi lapar. Akhirnya saya jadi sering pakai jasa ojek makanan,” ujar mahasiswi semester III Universitas Brawijaya ini.

Ketika libur kuliah kemarin, Anggi pulang ke rumahnya di Kelurahan Lirboyo. Suatu hari, dia ingin membeli tiket nonton, tapi ketika diberitahu antreannya mencapai tangga masuk ke bioskop, dia jadi malas. Berniat ingin menggunakan jasa layanan pembelian tiket nonton, dia ingat, dia tidak sedang berada di Malang. “Akhirnya terpaksa harus antre. Dan saya harus berdiri lebih dari satu jam untuk beli tiket bioskop,” cerita Anggi.

Dari situ Anggi mendapat ide untuk mendirikan usaha pelayanan transportasi seperti GoJek, tapi miliknya sendiri. Usaha tersebut hanya melayani pelanggan dari wilayah Kediri, baik kota dan kabupaten. Dia yakin, tidak hanya dia warga Kediri yang sering merasa malas untuk antre membeli makanan atau tiket nonton film. Karena itu, mengapa tidak, jika dia memanfaatkan kemalasan tersebut untuk mencari uang dan bahkan bisa membukakan lapangan pekerjaan bagi orang banyak?

Dengan dibantu oleh adik laki-lakinya, Mochammad Akbar, yang saat ini masih duduk di kelas XII SMA Negeri 1 Kediri, dia memulai usaha pelayanan transportasinya itu. Adiknya yang masih sekolah, bertanggung jawab dalam hal mendesain logo, brosur, dan poster untuk ditampilkan di media-media sosial. Sementara dia sendiri, bertanggung jawab sebagai admin dan driver-nya. “Saya nekat-nekatan. Meskipun cuma saya sendiri driver-nya, tapi saya yakin bisa meng-handle semua pesanan,” ujarnya.

Satu minggu pertama berdiri, dia hanya mendapat tiga pesanan. Minggu berikutnya, meningkat sepuluh pesanan. Dan di minggu ketiga, sehari dia bisa mendapat lebih dari dua pesanan, dan lokasinya pun seringkali terlampau berjauhan. “Misal, pernah ada pesanan dari orang di daerah Kelurahan Pojok, tapi pesan makanannya di daerah Katang. Terus baru diantar, ada yang pesan makanan dari Kelurahan Tempurejo, pesan makanannya di Gurah,” tutur Anggi.

Untung saja ada satu kawannya, Sebastian Billy, yang menawarkan bantuan mencarikan driver lainnya. Alhasil, setelah satu bulan berjuang sendirian, dia mendapat tambahan dua driver. “Dua-duanya cowok. Jadi mereka lebih tahan banting kalau ada pesanan dari daerah kabupaten yang terlalu jauh,” kata perempuan yang saat ini mengambil jurusan Ilmu Administrasi Publik di UB.

Selama menjadi driver, ada banyak cerita seru yang dia alami. Salah satunya yang paling dia ingat adalah ketika dia menjemput istri Walikota Kediri, Feronica Silviana Abdullah Abu Bakar untuk mengantarkannya ke tempat dinas. “Selain melayani pesanan makanan, belanja, tiket nonton, dan mengantar barang, kami kan juga ngojek orang juga,” kata Anggi.

Yang paling membuatnya kesal adalah, ketika dia sudah di rumah, mau istirahat, tiba-tiba ada pesanan. Padahal dia baru saja ganti baju. Dan pesannya pun hal yang sepele seperti es krim. “Terus setelah diantar, ternyata es krimnya sedikit meleleh, orangnya menggerutu. Aduh, kalau sudah begitu cuma bisa mengelus dada. Sabar,” cerita perempuan kelahiran 2 Juli 1997 ini.

Saat ini ojekzone telah berkembang pesat. Dalam sehari, minimal mereka melayani 10 pesanan.   Driver-nya pun juga semakin bertambah, hingga 9 orang. Dia pun juga menjalin kerjasama dengan tempat-tempat penjual makanan dan bioskop agar bisa memperoleh pesanan dengan cepat tanpa perlu mengantre panjang. “Sebagai owner sekaligus pendiri, saya berharap warga Kediri bisa menerima usaha saya ini dengan positif. Untuk para tukang ojek yang mungkin merasa dirugikan, saya membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin bergabung. Toh bagi driver gajinya juga bukan bulanan. Berdasarkan rajin atau tidaknya mereka terima pesanan,” pungkasnya. (della cahaya praditasari)

Follow Untuk Berita Up to Date