Malam Jumat Wage, Kirap Pusaka di Ngliman Dikawal Puluhan Pesilat

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Suasana hening mencekam menyelimuti hari Kamis Pon malam Jumat Wage, 5 September 2019. Semua aliran listrik dan lampu dimatikan, yang nampak hanya kilatan lampu obor memecah kesunyian malam. Aroma dupa dan kembang memenuhi setiap jalan diiringi sayup-sayup suara salawat nabi.

Itulah gambaran suasana ritual kirap dan turuhan pusaka yang digelar oleh warga Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk. Prosesi ritual diawali dengan pengambilan 6 pusaka dari gedung pusaka di komplek kantor desa setempat.

Keenam pusaka yang dikirap dan dituruh ini adalah Kiai Kembar, Kiai Bondan, Kiai Jogo Truno, Kiai Betik, Eyang Dukun dan Eyang Panji. Digendong oleh kepala desa bersama perangkat desa dengan berpakaian adat, 6 pusaka dan sesaji dikirap keliling desa diikuti oleh seluruh masyarakat Desa Ngliman.

Uniknya, puluhan pesilat dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) nampak siaga penuh mengawal jalannya kirap dan turuhan ini. Begitu juga dengan sesepuh desa, mereka tak henti-hentinya memanjatkan doa meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Ngliman dijauhkan dari bencana.

Saat sejumlah pusaka dikirap, seluruh lampu dimatikan dan hanya boleh menyalakan obor untuk penerangan. Setelah dikirap mengitari seluruh jalan desa, semua pusaka tersebut dibawa ke rumah salah seorang perangkat desa untuk dilakukan turuhan.

Setelah turuhan selesai, warga melakukan doa dan selamatan. Selanjutnya kembali melakukan kirap untuk membawa pusaka tersebut ke pendapa agung dan diserahkan kepada sesepuh desa untuk disimpan kembali di gedung pusaka, kelak semua pusaka ini akan dijamas.

Sedangkan air turuhan tersebut, diperebutkan oleh warga. Mereka meyakini air tuah turuhan itu bisa mendatangkan berkah rejeki juga bisa bermanfaat bagi kesehatan.

“Usai dikirap dan dikembalikan ke gedung pusaka, para perangkat desa bersama sesepuh melakukan tirakatan, tidak tidur sampai pagi,” ujar Soleh Sundafa Kamituwo Ngliman.

Pusaka yang dijamas hanya Kiai Kembar, dan lima pusaka lainnya hanya dibersihkan karena berbentuk wayang. Ritual ini turun temurun dari nenek moyang sampai sekarang.

Tujuannya, kata Soleh, untuk menghormati cikal bakal dan peninggalan leluhur. Dengan adanya kirab, turuhan dan jamasan pusaka ini warga berharap semoga Desa Ngliman dijauhkan dari marabahaya dan semua penyakit.

“Ini merupakan identitas diri Desa Ngliman yang harus dilestarikan, yakni antara kultur budaya, tradisi dan adat istiadat serta santunan terhadap fakir miskin dan anak yatim. Kita kolaborasikan,” tuturnya.

Reporter : Muji Hartono

Editor     : Achmad Saichu