Lingga Yoni dan Arca Wengker Pertama, Diklaim sebagai Lambang Kesuburan

Share this :

Ponorogo, koranmemo.com – Sebuah benda purbakala di era Wengker Pertama berhasil terindifikasi setelah lebih dari 50 tahun lamanya menjadi penyangga penampungan air milik warga.

Arca yang terindentifikasi sebagai lingga yoni ini, ditemukan oleh Sikin (75) di pekarangan rumahnya RT 01/RW 01 Dukuh Tumpuk Desa Kemiri Kecamatan Jenangan tahun 1969 lalu.Sikin menceritakan, saat menggali pekarangan, ia banyak menemukan benda- benda kuno di antaranya kendi, layah, dan ulek-ulek, serta lesung. Namun akibat tidak mengetahui seluk beluk benda-benda tersebut ia pun memilih menghancurkan dan membuangnya.

“Dulu banyak benda benda kuno yang saya temukan, tapi karena orang awam makanya banyak yang saya buang, cuma lingga itu saja yang sampai sekarang ada. Itu pun saya pakai untuk tempat penyangga penampungan air minum di dapur,” ujarnya, Jumat (6/4).

Dia mengungkapkan, di tempat penemuan arca yang diklaim sebagai lambang kesuburan itu, banyak terdapat batu bata kuno dengan ukuran besar. “Banyak batu bata kuno juga di situ, sampai sekarang masih ada dan saya tidak berani memindahkannya karena keramat,” akunya.

Sementara itu, Sujarno Perangkat Desa Kemiri Kecamatan Babadan  mengaku, pihaknya baru mengetahui adanya Arca Wengker Pertama di desanya setelah salah satu pengamat purbakala dari Madiun mengidentifikasi penemuan Sikin itu sekitar 3 minggu lalu.

Dari hasil pengamatannya diprediksi lokasi penemuan arca itu adalah lokasi pemujaan yang digunakan untuk menyembah dewi kesuburan. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan Longga Yoni berkategori perempuan tersebut.

“Tiga minggu lalu ada pengamat purbakala ke sini dan mengidentifikasi arca ini. Dari hasil pengamatannya tempat ini ada balai pemujaan dewi kesuburan, yang sering digunakan masyarakat tempo dulu untuk meminta keturunan,” bebernya.

Sujarno mengungkapkan, hingga kini Arca Wengker Pertama tersebut masih berada di rumah Sikin, dan belum dievakuasi ke balai konservasi purbakala lantaran pihak Dinas Pariwisata Ponorogo juga belum mengetahui keberadaan benda itu. “Belum ada dinas ke sini. Makanya masih kami simpan biar tidak rusak,” pungkasnya.

Reporter : Zaenul
Editor      : Muji Hartono

Follow Untuk Berita Up to Date