Lebih Diapresiasi di Luar Daerah

Lis Susanti, Pengrajin Aksesoris Batu Alam dan Kain Perca

Kediri, Koran Memo – Sebagian orang menganggap kain perca merupakan kain yang tidak bisa dibuat apa-apa atau sampah belaka. Namun di tangan Lis Susanti “sampah” tersebut merupakan pundi-pundi penghasilan bagi dirinya sendiri dan beberapa karyawannya. Dengan sedikit kreativitas, Lis Susanti menyulap kain perca tersebut menjadi berbagai aksesoris seperti kalung, gelang, bros, dan sebagainya.

Lis Susanti memberikan pelatihan kepada beberapa ibu rumah tangga yang ingin mengeluti bisnis aksesoris (ist)
Lis Susanti memberikan pelatihan kepada beberapa ibu rumah tangga yang ingin mengeluti bisnis aksesoris (ist)

Mungkin nama Lis Susanti masih merasa asing di telinga beberapa orang. Namun bagi para penggemar aksesoris batu alam dan kain perca, nama Lis Susanti cukup tersohor. Perempuan berusia 31 tahun ini merupakan seorang desainer aksesoris yang terbuat dari batu alam dan kain perca.

Sejak memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan frontliner sebuah provider tahun 2009 lalu, Lis Santi memilih mengeluti bisnis aksesoris. Awalnya perempuan kelahiran 8 Februari ini jalan-jalan ke sebuah toko buku untuk mencari referensi mengenai usaha apa saja yang bisa dikembangkan di rumah.

Sebuah buku mengenai berbagai macam aksesoris yang terbuat dari manik-manik mencuri perhatiannya. Santi membeli buku tersebut untuk dipelajari di rumah. Akhirnya dia memutuskan untuk mencoba-coba membuat aksesoris tersebut. “Saya ini orangnya tidak bisa diam saja di rumah. Makanya saya mencari kesibukan untuk mengisi waktu luang sebagai ibu rumah tangga,” tutur perempuan yang memiliki brand Studiocraf by Santi ini.

Ibu dua putra inipun memulai mencari manik-manik dan batu alam untuk dijadikan bahan aksesoris. Melalui media sosial, Santi memasarkan aksesoris produksinya. Respon baikpun didapatnya dari beberapa orang mengenai karyanya.

Sejak saat itu Santi mulai menekuni dan mengembangkan bisnisnya. Dia mengikuti berbagai pameran aksesoris yang diadakan baik di dalam kota maupun di luar kota. Namun satu hal yang disayangkan Santi mengenai minat warga Kota Kediri yang kurang menyukai produk handmade. “Minat masyarakat luar kota malah lebih antusias jika dibandingkan dengan masyarakat kota. Mereka lebih mengetahui bagaimana sulitnya proses pembuatan sehingga harga jual yang ditawarkan sebanding dengan produk,” tutur Santi.

Minimnya minat karena tingginya harga jual itu disiasati Santi dengan membuat produk yang lebih ekonomis. Berkembangnya mode aksesoris, Santi mencoba berkreasi dengan menggunakan kain perca berbentuk batik. Dia berinovasi mengembangkan produknya dengan bahan kain supaya harga lebih terjangkau.

Gebrakan yang dilakukan cukup mendongkrak pemasaran di kalangan menengah kebawah. Berkembangnya media sosial pun ikut membantu meningkatkan jumlah order masuk. Pesanan tersebut datang dari luar kota bahkan reseller dari Aceh, Sumatra, dan Medan. “Bisnis semacam ini kan menjamur, supaya tetap survive ya harus terus berinovasi dengan model aksesoris,” ungkapnya. (nuramid hasjim)

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date