Lahan Sempit, DLH Enggan Perluas TPA Mrican

Share this :

Ponorogo, koranmemo.com – Kendati lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Mrican Kecamatan Jenangan kian sempit, namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo tampak enggan melakukan perluasan kawasan akhir penampung sampah tersebut.

Hal ini terbukti, dengan batalnya wacana pembebasan lahan seluas 2 hektar di sekitaran TPA Mrican yang gencar digaungkan DLH sejak tahun lalu untuk menambah luas lahan tampung sampah. Di TPA Mrican sendiri dari 3 hektare lahan 2,1 hektare lahan telah digunakan untuk menampung sampah, sementara kawasan kosong hanya tinggal 900 meter persegi. Sedangkan dalam satu harinya produksi sampah mencapai 50 ton dan ditampung di kawasan ini.

Kepala DLH Ponorogo Sapto Djatmiko membenarkan pembatalan wacana perluasam lahan TPA Mrican. Ia menilai selain menelan anggaran besar yakni Rp 14 miliar, juga tidak menyelesaikan persoalan produksi sampah di Ponorogo yang hingga kini masih tinggi.” Kami tampaknya tidak jadi melakukan perluasan lahan. Selain rumit dan menelan anggaran besar yakni Rp 14 miliar. Kalau hanya ditumpuk tanpa diolah maka dalam kurun waktu 15 tahun juga akan over load,” ujarnya, Rabu ( 8/8).

Sapto mengungkapkan, sebagai gantinya pihaknya tengah mewacanakan pemanfaat limbah sampah menjadi Briket (bahan bakar). Dengan menggandeng DLH Malang pihaknya tengah melakukan studi pemanfaatan bahan bakar sampah ini. Sapto mengklaim dengan metode ini dapat meengurangi produksi sampah hingga 30 ton per hari. ” Dengan 30 ton dimanfaatkan untuk briket tentu signifikan sekali pengurangan produksi sampah. Untuk itu kita tidak menambah lahan namun memperpanjang masa tampung hingga 15 tahun kedepan,” klaim nya.

Sayang, proses ini masih menunggu hasil DLH Malang yang hingga kini belum melakukan uji coba terkait Briket sampah tersebut.” Ini masih wacana, kita tunggu dulu bagaimana hasilnya malang. Kalau fix kita terapkan disini. Untuk anggaran hanya 2 miliar,” pungkasnya.

Reporter Zainul Rohman

Editor Achmad Saichu