Kurangi Ketergantungan Pasokan, Petani Milenial Trenggalek Ciptakan Swasembada Bawang

Share this :

Trenggalek, Koranmemo.com – Petani millenial di Trenggalek menanam ribuan bibit bawang merah di lahan seluas sekitar 1 hektare, Selasa (11/2). Uji coba tanam komoditas bawang yang masuk kategori komoditas impor itu dilakukan untuk menciptakan swasembada bawang. Selain bawang merah, petani millenial tengah mengembangkan komoditas bawang putih.

Ketua Asosiasi Petani Millenial Trenggalek, Wira Negara mengatakan, uji coba pengembangan budidaya bawang merah ini berkaca dari kebutuhan daerah yang dinilai tidak sesuai dengan jumlah pasokan. Trenggalek masih kerap mendatangkan komoditas bawang dari daerah lain. Padahal Trenggalek dinilai potensial untuk pengembangan.

“Kami ingin Trenggalek bisa menjadi daerah swasembada bawang merah dan bawang putih, untuk bawang merah sudah mulai kita tanam sedangkan untuk bawang putih kita masih mencari lahan yang suhunya bagus,” kata dia di lokasi rintisan pengembangan budidaya bawang di Kelurahan Ngantru.

Rintisan pengembangan budidaya bawang ini diharapkan menginspirasi petani lainnya untuk berkutat pada komoditas serupa. Pasalnya di Trenggalek komoditas bawang merah dan bawang putih masih langka di kembangkan para petani. Padahal berkaca pada kebutuhan nasional, komoditas bawang putih kerap mendatangkan dari negara lain.

“Semoga petani milenial yang lain nanti bisa mengaplikasikan kegiatan serupa di masing-masing desa. Minimal bisa untuk mencukupi kebutuhan (bawang) Trenggalek itu sendiri. Syukur-syukur kalau ada panen lebih, bisa di suplaikan ke daerah lain. Ini masih tanam perdana, semoga bisa menghasilkan yang baik,” pungkasnya.

Pelaksana Tugas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Trenggalek, Agung Sudjatmiko menyebut, sebanyak 2 kuintal bibit bawang merah di tanam di area persawahan seluas lebih dari 1 hektar. Selain komoditas bawang, pengembangan serupa bakal dilakukan pada sejumlah komoditas lainnya.

“Kalau percontohan ini sukses, saya yakin para petani akan meniru. Mungkin saat ini masih bawang, namun ke depannya kami berharap bisa juga (komoditas) cabai, kemudian melon dan lainnya. Ini masih rintisan, tentunya pasti nanti ada kendala-kendala yang harus kita pecahkan bersama,” kata Agung.

Untuk itu rintisan budidaya bawang merah itu melibatkan banyak pihak termasuk pendamping pertanian. Mereka optimis budidaya bawang itu tak lagi mendatangkan suplai dari daerah. Jangka panjangnya tercipta swasembada bawang dan sejumlah komoditas lainnya. Jangka panjangnya komoditas itu tak lagi bergantung pada ekspor.

“Komoditas bawang kita sangat tergantung pada (mayoritas impor) China. Kami ingin minimal Trenggalek dululah, kebutuhan Trenggalek bisa dicukupi dari Trenggalek itu sendiri. Sebetulnya sudah ada spot-spot (budidaya), namun untuk ini kita intensifkan varietas unggul,” pungkasnya.

Reporter: Angga Prasetya
Editor: Della Cahaya