Kritisi Peredaran Buku Pendamping Berisi LKS

Nganjuk, koranmemo.com – Peredaran buku pendamping jenjang SMP di Nganjuk mengundang reaksi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk. Pasalnya, LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang dibalut dengan sampul buku pendamping tersebut dianggap tidak memenuhi standar kualifikasi sebagai bahan ajar untuk kelas 7, 8, dan 9.

Data yang dihimpun Koranmemo.com, buku pendamping yang di dalamnya berupa LKS terdiri dari 4 mata pelajaran yang diujinasionalkan, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPA. Buku tersebut dinilai justru berdampak bagi guru menjadi tidak inovatif selama proses belajar mengajar.

“Penjualan LKS kepada siswa tidak dibenarkan oleh aturan, sedangkan buku pendamping ini sebenarnya hanya sampulnya saja, isinya tetap LKS,” jelas H.M. Yasin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk, dikonfirmasi wartawan di kantornya.

Selain menentang aturan, proses pembuatan buku pendamping hingga ke tangan siswa SMP di Nganjuk diduga dengan mencatut nama kepala dinas. Pernyataan ini disampaikan oleh H.M. Yasin bahwa ada sinyalemen proses peredaran buku pendamping di Nganjuk dengan membawa-bawa namanya.

Dari informasi yang ia terima, pihak penerbit sudah terlebih dahulu mendapat izin dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk. Padahal, setelah dicek kepada seluruh pejabat hingga staf, tidak satupun yang merasa diajak bicara apalagi dimintai izin.

“Informasi yang beredar, penerbit membawa-bawa nama saya sebelum menerbitkan. Padahal, saya tidak diberitahu sama sekali apalagi dimintai ijin. Kemudian saya tanyakan kepada pejabat dan kasi, barangkali mereka mengerti, mereka malah baru mendengar,” sangkal H.M. Yasin.

Menurut Yasin, apabila sebelum beredar, dia sudah mengetahui terlebih dahulu, pasti melarangnya. Lantaran penjualan LKS dalam kemasan apapun dilarang. Seperti peredaran LKS yang dibalut dengan sampul buku pendamping tersebut jelas tidak boleh. Untuk itu, pihaknya menyarankan kepada seluruh penggagas buku pendamping untuk menghentikan dan menarik kembali buku-buku yang sudah beredar.

Selain itu, kepala dinas juga merencanakan memanggil Ketua MKKS tingkat SMP untuk dimintai keterangan. Informasi yang didapat, peredaran buku pendamping tersebut merupakan proyek MKKS bekerjasama dengan penerbit. Untuk sementara, memanfaatkan 4 kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPA. Sehingga, draft materi sebelum menjadi buku, dikerjakan selama kegiatan MGMP.

Bila proyek pertama ini berhasil, akan menyusul buku serupa untuk semua mata pelajaran yang diajarkan bagi siswa jenjang SMP di Nganjuk. Selanjutnya, melalui sekolah, buku-buku tersebut didrop dan dijual kepada siswa dengan harga standar proyek Rp 15 ribu per eksemplar. Namun ada beberapa sekolah yang menjual di atas harga patokan.

Reporter Andik Sukaca
Editor Irwan Maftuhin