KPw BI Kediri Tak Sarankan Penukaran Uang Pinggir Jalan

Share this :

Kediri, koranmemo.com – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kediri menilai, setiap bulan Ramadan menjadi tradisi masyarakat untuk menukarkan uang baru. Meskipun demikian, KPw BI Kediri tidak menyarankan penukaran uang di lapak-lapak yang berada di pinggir jalan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kepala KPw BI Kediri, Sofwan Kurnia mengatakan, proses penukaran uang jika menilik ketentuan secara hukum, BI hanya bekerja sama dengan pihak-pihak yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu. “Kalau secara hukum pihak yang melakukan penukaran harus memenuhi sisi hukum, peralatan, sumber daya manusia (SDM), manajemen, dan tentunya SOP,” jelasnya, Senin (11/5).

Mengapa ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi? Karena, kata Sofwan, transaksi penukaran uang dari pihak satu dengan pihak lainnya harus sesuai dengan nominal yang disepakati. Selain itu, nominal uang tidak berubah meskipun secara fisik tidak sama dengan uang yang baru dicetak.

Sofwan menjelaskan, jika masyarakat menukarkan uang di lapak yang ada di jalan, ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. “Kalau nanti terjadi sesuatu, masyarakat sendiri yang rugi dan itu bukan tanggung jawab BI atau perbankan lainnya. Karena, melakukan penukaran uang tidak sesuai dengan prosedur perbankan,” jelasnya.

Hal-hal yang mungkin terjadi, kata Sofwan, yaitu ada oknum yang memanfaat situasi atau tradisi penukaran uang dengan memberikan sebagian uang dengan uang palsu. “Ini kan bisa saja terjadi. Selain itu, jumlah nominal tidak sesuai dengan nominal yang ditukarkan. Jika ada yang menukar Rp 100.000, ternyata yang diterima hanya Rp 90.000, karena ada jasa atau semacamnya,” katanya.

Ditambahkan, KPw BI Kediri di tengah wabah Covid-19 ini tetap mempersiapkan kebutuhan uang non tunai selama bulan Ramadan dan Idul Fitri 2020. “Kalau perkiraan kami, meskipun ada penurunan jumah outflow selama periode Ramadan dan Idul Firti 2020 mencapai 14 persen dibandingkan sebelumnya, tapi kami tetap menyiapkan kebutuhan outflow sebesar Rp 4,38 trilirun,” ucapnya.

Reporter : Okpriabhu Mahtinu
Editor : Della Cahaya