Komunikasi Politik Mataraman

Share this :

Dinamika politik di Indonesia berkembang mengalir bak kapal di tengah gelombang besar lautan lepas. Hot Isu reshuffle kabinet kerja mengemuka di beberapa media mainstream maupun media sosial.  Realitas ini menarik untuk di simak karena pasti akan membawa dampak bagi masyarakat baik langsung maupun tidak.

Yang masih hangat hari ini adalah walk-out nya beberapa partai dalam pembahasan RUU Pemilu. Isu Presidential Threshold, Parliamentary  Threshold hingga alokasi kursi per Dapil telah membelah kepentingan wakil – wakil rakyat yang ada di  DPR . Masyarakat mungkin merasa hal ini tidak menjadi objek menarik karena tidak bersentuhan langsung dengan kepentingannya,  namun lambat laun akan terasa efeknya jika kemudian kebijakan yang diambil tidak berpihak pada kepentingan khalayak secara luas.

Dalam ranah akademis, kajian – kajian komunikasi masih tergolong relative baru, apalagi jika masuk pada ranah politik. Isu – isu dalam ranah public membawa kita kembali kepada pemikiran klasik Harold. D. Lasswell, seorang ilmuan politik yang mewarnai ilmu komunikasi. Bahwa seorang komunikator ketika menyampaikan pesan kepada audiens tentu akan memilih saluran (media) yang tepat sehingga ada umpan balik kepada komunikator dari komunikan.

Bicara komunikasi dan politik tentu tidak lepas dari budaya. Fase ini lah yang bias membedakan antara negara yang menggunakan budaya barat dan timur. Indonesia sebagai bangsa yang kuat dalam adat ketimuran harusnya memiliki etika dan norma yang harus di pegang teguh dalam berperilaku sehari-hari. Namun, tidak banyak orang yang memegang kaidah ini terutama dalam proses ber-komunikasi maupun kehidupan ber-politik.

Politik masih menjadi Raja

Kekuatandan magnet politik masih menjadi fenomena menarik dalam pergulatan elemen–elemen bangsa ini. Bahkan ada Stereotype (pembakuan istilah yang belum tentu kebenarannya). Bahwa kalau pengen cepat kaya maka masuklah dunia politik atau kalau tidak ada loby politik tidak akan mungkin bias memperoleh jabatan tertentu. Pernyataan ini, tidak saja bias merubah mainset orang tetapi bias meracuni orang-orang tertentu untuk menjadikan politik sebagai alat pemenuhan kebutuhan individunya.

Statement raja berpolitik dan politik sebagai raja menarik untuk disimak.Jika raja ber-politik tentunya terdapat dampak kemajuan yang signifikan bagi rakyatnya. Tapi jika politik sebagai raja pasti akan membawa kemunduran bagi bangsa yang melakukannya. Hancur leburnya negara-negara yang di bom bardier dengan kekuatan politik merupakan bukti konkrit jika politik menjadi raja.

Pemahaman politik sebagai raja inilah yang sebenarnya harus dihindari sebagai sebuah Stereotype. Bagaimanapun, secara sosiologis masyarakat harus memahami arti proses kehidupan dan tidak menjadikan politik sebagai langkah instan dalam meraih tujuan tertentu.

Budaya Mataraman

Budaya Jawa mengenal istilah Mataraman yang dipengaruhi oleh hasil akulturasi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Akulturasi ini Nampak pada pola bahasa Jawa yang digunakan oleh sebagaian orang di Eks karisidenan Madiun dan Kediri. Bahasa tutur yang hampir mirip dengan masyarakat Jawa Tengah (Solo) karena pengaruh kerajaan Mataram di Yogyakarta.

Hingga saat ini budaya dalam berbahasa (tutur) masih menjadi pegangan mayoritas masyarakat mataraman. Perilaku juga menjadi aspek penting dalam kehidupan masyarakat mataraman. Nilai-nilai estetika ini bias digunakan sebagai pijakan dalam berkomunikasi, misalnya bagaimana cara orang berbicara kepada yang lebih tua atau lebih muda. Dalam ranah politik perilaku santun juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan mataraman ini mungkin bias menjadi alternatif,  seiring banyaknya pelaku politik yang kurang biasa berbahasa tutur dengan baik dan berperilaku cenderung tidak mengedepankan etika yang berlaku dalam masyarakat.

Merawat Komunikasi Politik ala Mataraman

Esensi dari komunikasi sebenarnya lebih kepada bagaimana pesan itu dapat ditampilkan kepada publik. Studi ilmu politik yang lebih banyak menempatkan Dramaturgi sebagai pisau analisis juga berdampak pada kajian komunikasi politik. Pandangan Dramaturgi “Erffing Goffman” bahwa kita hidup dalam dunia panggung yang menampilkan diri pada panggung depan (Front Stage) dan panggung belakang (Back Stage).

Komunikasi secara sederhana melibatkan aktor dan pesan. Politik menurut Aristoteles mengedepankan usaha yang ditempuh warga Negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pandangan ini tentunya selaras dengan budaya mataraman, artinya warga Negara secara bersama-sama harus memegang teguh etika maupun estetika guna mencapai kehidupan yang lebih baik.

Hidup manusia akan mulya jika ia bias memulyakan orang lain. Dan memulyakan orang lain dengan perilaku yang baik menjadi bukti konkrit aplikasi dari proses ber-politik dalam konteks budaya jawa khususnya mataraman. Selain itu, cara penyampaian pesan dengan bahasa tutur yang baik sebagai perwujudan dari komunikasi politik bias menyadarkan kita bahwa apa yang kita ucapkan harus sejalan dengan perilaku keseharian kita.

Pengirim: Dr. APRILANI

*Pengajar Ilmu Komunikasi

*StafAhli Pimpinan DPRD-Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.