Kolektor 1033 Keris: Enggan Diperjual-belikan, Takut Diambil Peminat Luar Negeri

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Mengoleksi benda pusaka seperti keris tentu menyenangkan bagi sebagian orang yang menyukainya. Lantas, bagaimana jadinya jika seorang kolektor rela merogoh kocek lebih dalam demi mengoleksi ribuan keris?

Di Kabupaten Nganjuk ada seorang kolektor keris bernama Suyanto, warga Desa Kacangan Kecamatan Berbek, yang memiliki koleksi hingga 1033 keris. Usia keris koleksinya juga terbilang tua, dan yang paling menakjubkan seluruhnya buatan para Empu terkenal pada zaman kerajaan, mulai kerajaan Singosari, Majapahit hingga Mataram.

Suyanto menjelaskan, keris tertua yang dia koleksi memiliki usia hingga ratusan tahun silam. Ia mencontohkan keris yang dinamakan Kiyai Bethok, produk empu di zaman kerajaan Singosari. Keris ini ia sebut sebagai penetral semua koleksi keris miliknya yang disebut tindhih.

“Kalau memiliki koleksi keris lebih dari dua, harus ada penetralnya, yaitu keris yang usianya lebih tua,” jelasnya.

Dari sekian banyak keris yang ia koleksi, ada satu keris yang paling disukai dengan nama Satriyo Pinayungan, karya Empu Supa di zaman Majapahit. Keris kecintaannya ini bukan hasil dari membeli, melainkan hadiah dari seorang kiai.

Tak tanggung-tanggung, Suyanto harus rela merogoh kocek dalam hingga ratusan juta rupiah demi bisa mendapatkan koleksi kerisnya. Bahkan, ada salah satu keris koleksinya yang memiliki nilai fantastik. Namun, ia bertekad untuk tidak memperjual-belikan keris miliknya walaupun memiliki koleksi hingga ribuan.

“Kalau saya jual, khawatir dijual kepada kolektor dari luar negeri. Nanti bisa jadi keris-keris yang asli dan memiliki usia tua habis dibawa ke luar negeri,” tegasnya.

Ia menceritakan ada empat keris miliknya sempat ditawar oleh kolektor. Akan tetapi tidak dilepas, lantaran kecintaannya terhadap hasil karya budaya bangsa berupa keris sangat tinggi. Masing-masing adalah keris Sepang Kinatah Kamarogan Mataram, Naga Tapak Angin Kinatah Kamarogan Mataram,  Nagaraja Kinatah Kamarogan Majapahit, dan Sepang Hamengkubuwono Makara Mataram.

“Tinggi rendahnya harga keris ada tiga patokan, yaitu memiliki nilai sejarah, keindahan, dan estetika,” papar Suyanto.

Suyanto pun mengakui jika penghobi keris kerap dicitrakan sebagai orang kuno yang menyenangi dunia mistik dan klenik. Tapi, dia tidak setuju dengan pendapat itu. keris adalah benda budaya, punya sejarah dan estetika tinggi.

Meski begitu, dia menghormati orang-orang yang menilai keris dari sisi spiritual. Benda itu dibuat secara susah payah oleh para empu. Ada doa-doa yang dipanjatkan saat menempa bilah. Tentu itu membawa energi tertentu yang sah-sah saja kalau diyakini.

Reporter: Andik sukaca
Editor Achmad Saichu